Mau Nafkahin Malah Dinafkahin
Vahn, pewaris klan terkaya Solas, tumbuh miskin tanpa tahu asal-usulnya yang sebenarnya. Suatu hari, demi lari dari desakan klannya agar segera menikah, ia pakai app kencan untuk sewa pacar. Rose, CEO Grup Starry, juga lagi cari pria untuk punya anak agar tidak dijodohin. Keduanya bertemu. Di hari pertemuan, tunangan Rose, Albert, jadi musuh Vahn.
Rekomendasi untuk Anda





Gaya Visual yang Ngambil Hati
Warna-warna cerah di latar belakang kontras dengan emosi gelap karakter awal—brilliant! Detail seperti bros ungu di baju putih wanita muda atau kalung mutiara ibu tua jadi simbol status & perubahan. Mau Nafkahin Malah Dinafkahin sukses menyampaikan konflik tanpa dialog berlebihan. Cinematic banget untuk short film! 🎬
Karakter Pria Plaid: Simbol Ketidakpastian Generasi
Pria muda berbaju kotak-kotak itu adalah kita semua—bingung antara kewajiban dan keinginan. Ekspresinya dari pasif ke berani mengambil langkah besar sangat realistis. Di Mau Nafkahin Malah Dinafkahin, dia bukan pahlawan, tapi manusia biasa yang akhirnya memilih cinta keluarga. Relatable banget! 💙
Ibu dalam Cheongsam: Kuasa Tanpa Kata
Perempuan dalam cheongsam merah-hijau itu adalah pusat gravitasi seluruh cerita. Senyumnya lembut tapi tegas, tatapannya menyimpan ribuan kisah. Dia tidak banyak bicara, tapi setiap gerak tangannya—memegang mutiara, menatap anaknya—mengatakan segalanya. Mau Nafkahin Malah Dinafkahin menghormati kekuatan diam perempuan. 👑
Twist Emosional yang Tak Terduga
Dikira konflik ekonomi, ternyata intinya adalah rekonsiliasi keluarga! Adegan pria berjas cokelat tersenyum sambil melihat pelukan tiga orang itu—oh my god, air mata langsung jatuh. Mau Nafkahin Malah Dinafkahin berhasil bikin penonton ikut bernapas bersama karakter. Short film dengan jiwa panjang. 🌈
Drama Keluarga yang Bikin Hati Meleleh
Adegan pelukan tiga orang di akhir Mau Nafkahin Malah Dinafkahin benar-benar memukau! Ekspresi wajah mereka penuh emosi—dari kebingungan, ragu, hingga kebahagiaan yang tak terucap. Kostum dan setting sederhana justru memperkuat kedalaman narasi. Ini bukan sekadar drama, tapi cerita tentang pengorbanan dan penerimaan. 🥹✨