Mau Nafkahin Malah Dinafkahin
Vahn, pewaris klan terkaya Solas, tumbuh miskin tanpa tahu asal-usulnya yang sebenarnya. Suatu hari, demi lari dari desakan klannya agar segera menikah, ia pakai app kencan untuk sewa pacar. Rose, CEO Grup Starry, juga lagi cari pria untuk punya anak agar tidak dijodohin. Keduanya bertemu. Di hari pertemuan, tunangan Rose, Albert, jadi musuh Vahn.
Rekomendasi untuk Anda





Gaya Visualnya Nyentrik Tapi Konsisten
Setiap karakter memiliki gaya khas: kalung batu hitam, jaket beludru LV, cheongsam bermotif bunga—semua dipilih secara sengaja untuk menceritakan Mau Nafkahin Malah Dinafkahin. Latar belakang kain batik plus poster berwarna-warni menjadi simbol konflik antara tradisi dan modernitas 🎨
Ekspresi Wajah = Bahasa Tubuh Utama
Tanpa dialog panjang, ekspresi pemuda berpola kotak-kotak dan cewek berkulit gelap sudah menceritakan banyak hal. Mata mereka berbicara lebih keras daripada suara—terutama saat pria berjas hitam menunjuk dengan jari yang gemetar. Mau Nafkahin Malah Dinafkahin adalah teater wajah tingkat dewa 👀
Meja Emas = Pusat Konflik Keluarga
Meja dengan vas, gulungan kertas, dan amplop merah bukan sekadar properti—itu medan perang psikologis. Setiap orang berdiri mengelilinginya seperti dalam ritual. Mau Nafkahin Malah Dinafkahin mengubah ruang sederhana menjadi panggung drama epik 🪞
Karakter Tua Justru Paling Ngeselin
Bapak berjas hitam dengan cincin giok? Dialah yang paling menjengkelkan—senyumnya manis, tetapi ucapannya menusuk. Di tengah kekacauan Mau Nafkahin Malah Dinafkahin, ia tetap tenang sambil memegang ponsel. Tipikal 'orang tua yang tahu segalanya tapi pura-pura tidak tahu' 😏
Drama Keluarga yang Bikin Geleng-Geleng
Mau Nafkahin Malah Dinafkahin benar-benar lucu! Adegan di meja dengan vas dan amplop merah itu penuh ketegangan komedi. Pria berjas hitam tampak panik, sementara nenek berpakaian geometris justru tenang—kontras emosinya membuat kita ikut deg-degan 😅