Versi asli
(Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar
Kevin, seorang pria yang dikhianati mantan pacarnya tiba-tiba membangkitkan sistem misterius yang memberinya kekayaan berlipat ganda setiap kali ia menghabiskan uang untuk wanita. Dari nol, ia naik ke puncak dan terjebak dalam romansa dengan empat wanita berbeda.
Rekomendasi untuk Anda





Adegan Kartu Jatuh = Adegan Patah Hati Publik
Kartu jatuh, lalu diinjak-injak—bukan karena benci, melainkan karena takut. Kevin tahu betul: uang bukan hanya angka, tetapi senjata psikologis. (Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar menunjukkan betapa rapuhnya harga diri saat dihadapkan pada kekayaan yang tak terduga.
Ekspresi Pak Kevin Saat Melihat Angka Triliun = Ekspresi Kita Saat Cek Saldo
Mata melotot, mulut ternganga, hampir jatuh berlutut—Pak Kevin menjadi representasi kita semua. (Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar berhasil membuat penonton ikut deg-degan, bahkan tanpa dialog panjang. Hanya satu adegan: kartu + mesin + reaksi. Ciamik!
Perempuan dalam Balutan Cokelat: Korban atau Strategis?
Dia menangis, digenggam, dipeluk Kevin—namun matanya tak lepas dari ekspresi Pak Kevin. Apakah dia takut? Atau sedang menghitung peluang? (Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar memberi ruang ambigu yang justru memperkaya narasi: korban bisa menjadi pemenang secara diam-diam.
Kalimat 'Aku Takut Banget' = Puncak Drama Keluarga Modern
Bukan karena ancaman fisik, melainkan karena ancaman status. Ketakutan Pak Kevin bukan pada kehilangan uang—tetapi pada kehilangan kendali. (Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar menyentil dinamika keluarga yang rentan terhadap uang, serta bagaimana kekayaan dapat menjadi bom waktu emosional 💣
Kekuasaan Uang vs Kekuasaan Wajah
Kevin datang dengan senyum dingin, sementara Pak Kevin berteriak-teriak soal 600 miliar. Namun saat kartu dibaca—triliunan muncul! 😳 (Sulih suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar benar-benar menggambarkan ironi kehidupan: yang paling sombong justru kalah oleh diamnya kekayaan.