Perhatikan saja genggaman tangan di atas meja, kepalan erat di pangkuan, jemari yang menggigit kain gaun—semua itu adalah bahasa tubuh yang lebih jujur daripada dialog. Penyesalanku dimulai saat mereka berhenti menyentuh, bukan saat mulai berdebat. 💔
Saat Su Qingmo berdiri dan pergi, kamera tetap fokus pada wajahnya yang kosong—bukan pada punggungnya. Itu karena ia tak benar-benar pergi; ia hanya berpindah dari ruang makan ke ruang hati yang lebih gelap. Penyesalanku adalah tempat ia kembali. 🌙
Panggilan dari Yan Mo bukan sekadar kabar—itu bom waktu yang meledak pelan. Ekspresi Su Qingmo berubah dari lesu menjadi tersenyum getir, lalu menangis diam. Penyesalanku bukan tragedi, melainkan ketika kita sadar: kita masih peduli pada orang yang telah memilih pergi. 📞
Ia tidur, ia datang, ia duduk—tanpa kata. Sentuhan ringan di rambut, tatapan lama, lalu kepergian lagi. Penyesalanku bukan tentang cinta yang hilang, melainkan dua orang yang masih tahu cara menyakiti satu sama lain... dengan keheningan. 😴
Foto mereka di meja samping ranjang—masih tersenyum, masih utuh. Namun tangannya membalik bingkai perlahan, seolah mengubur kenangan itu dalam-dalam. Penyesalanku bukan akhir, melainkan saat kita mulai menghitung detik sebelum menghapus jejak. 🖼️