Satu duduk tegak di meja marmer, satu rebah di sofa cokelat—dua dunia bertabrakan tanpa kata. Hoodie santai namun penuh energi, jas hitam kaku namun penuh kendali. Di tengah mereka, Penyesalanku menggantung seperti asap rokok yang tak pernah benar-benar hilang. Siapa yang menang? 🤷♂️
Ia tidak duduk, tidak makan, hanya berdiri—namun setiap gerak tangannya berbicara lebih keras daripada dialog. Ekspresi khawatirnya menjadi latar belakang emosional bagi Penyesalanku. Tanpa ia, adegan ini hanyalah ruang mewah yang kosong. Ia bukan pelengkap—ia adalah penjaga rahasia keluarga. 🕊️
Saat pria berjas melepas jam tangan, itu bukan gestur biasa—melainkan deklarasi perang yang diam-diam. Setiap sentuhan pada rantai logam adalah pengingat: waktu terus berjalan, tetapi penyesalan tidak bisa diatur ulang. Penyesalanku bukan tentang masa lalu, melainkan tentang detik-detik yang terbuang sia-sia. ⏳
Sofa itu lembut, tetapi jatuhnya pria berhoodie terasa keras—seperti benturan antara kejujuran dan kesombongan. Di sana ia berbaring, bukan karena malas, melainkan karena akhirnya lelah berpura-pura. Penyesalanku dimulai ketika kita berhenti bersembunyi di balik pose sempurna. 🛋️
Sendok itu menyentuh bibirnya, lalu berhenti—sejenak. Di detik itu, semua topeng jatuh. Tak ada dialog, hanya suara cairan kuning yang mengalir. Penyesalanku sering datang dalam hal-hal kecil: sendok, cangkir, tatapan singkat yang berubah menjadi ledakan. 🥄