Pria di ranjang tidak banyak bicara, tetapi tatapannya menghantam seperti ombak. Setiap kali ibu berbicara, ia menelan ludah—bukan karena sakit, melainkan karena tahu semua kata itu menggali luka lama. Penyesalanku memang pedih. 🌊
Kalung hijau ibu melambangkan harapan, sedangkan kemeja biru-putih sang anak melambangkan kepasifan. Mereka duduk berhadapan, tetapi jaraknya sejauh lautan. Di Penyesalanku, warna pun ikut bercerita. 🎨
Detil kecil itulah yang membuat kita merasa ngeri: jemari gemetar, napas tertahan, senyum dipaksakan. Ibu di Penyesalanku bukan tokoh lemah—ia adalah pahlawan yang berusaha menyembunyikan luka demi anaknya. 😢
Bukan obat atau dokter yang menjadi fokus—melainkan diamnya sang anak, serta derai suara ibu yang berusaha menyembuhkan masa lalu. Penyesalanku mengingatkan: kadang yang paling sakit bukanlah luka tubuh, melainkan luka yang tak pernah diucapkan. 🏥
Gerakan kecil itu lebih keras daripada teriakan: menatap, lalu menunduk. Di Penyesalanku, ekspresi adalah bahasa utama. Anak tak bisa memaafkan dirinya sendiri, dan ibu tak bisa berhenti mencintainya. ❤️🩹