Dia duduk diam, tangan menggenggam cangkir seperti memegang masa lalu yang tak bisa dilepaskan. Ekspresi di wajahnya—bukan marah, bukan sedih, tapi kelelahan karena terlalu sering berbohong pada diri sendiri. Penyesalanku bukan tentang dia pergi, tapi tentang aku yang masih menunggu di meja yang sama. ☕
Kalung emasnya berkilau, tapi matanya redup. Setiap gerakannya—menyentuh cangkir, menatap ke bawah, tersenyum tipis—adalah dialog tanpa suara. Dia tidak butuh kata-kata untuk bilang: 'Aku sudah lelah bermain peran.' Penyesalanku justru lahir dari ketenangan palsu itu. 🎭
Awalnya hanya satu kursi kosong. Lalu dia muncul dengan gaun merah yang seperti api di tengah kafe yang tenang. Dia tidak berteriak, tidak menangis—tapi setiap napasnya mengguncang fondasi percakapan mereka. Penyesalanku bukan karena pertemuan ini, tapi karena aku tahu ini bukan akhir. 🔥
Dua cangkir, satu penuh, satu kosong. Dia minum pelan, sementara dia hanya menatapnya seperti mencari jawaban di dasar keramik. Di balik senyumnya yang terkendali, ada luka yang belum sembuh. Penyesalanku adalah saat kita semua tahu: mereka tidak datang untuk kopi. Mereka datang untuk penutupan. 🫖
Pohon Natal berkilau di belakang mereka, tapi suasana dingin seperti musim gugur yang tak pernah berakhir. Dia mengenakan jaket cokelat tua—warna masa lalu yang tak ingin dilupakan. Penyesalanku bukan karena mereka berpisah, tapi karena mereka masih bisa duduk berhadapan tanpa saling menyentuh. ❄️