Anting berkilau di telinga Su Qingxing masih bersinar, meski matanya redup. Dulu ia percaya pada cinta, kini hanya percaya pada refleksi diri di cermin koridor. Penyesalanku terdengar saat angin malam menggerakkan daun kelapa—seperti bisikan: 'Kau masih bisa kembali.' ✨
Setiap langkah mereka terpantul sempurna di lantai marmer—namun bayangan itu tidak jujur. Bayangan tak menunjukkan getar tangan atau napas yang tersengal. Penyesalanku terjadi bukan di ruang tamu mewah, melainkan di celah antara dua bayangan yang enggan bersatu lagi. 🪞
Ia mengangkat ponsel, lalu menurunkannya. Mulut terbuka, namun suara tak keluar. Di detik itu, seluruh dunia berhenti—termasuk Penyesalanku yang menggantung di udara seperti debu emas. Kadang, kebisuan lebih keras daripada teriakan. 🤫
Saat Su Qingxing menatap ke samping dengan bibir tertutup rapat, kita tahu: ia sedang menghitung detik sebelum meledak. Mata itu menyimpan ribuan kalimat yang tak terucap. Penyesalanku semakin dalam ketika ia memalingkan wajah—bukan karena marah, melainkan karena tak sanggup lagi berpura-pura. 💎
Jas cokelatnya elegan, namun langkahnya goyah—ia bukan penjahat, hanya manusia yang salah paham. Saat berbalik meninggalkan ruang, kita merasakan: ini bukan akhir, melainkan awal dari penyesalan yang lebih besar. Penyesalanku mengalir seperti air di lantai marmer—dingin, licin, tak dapat dihentikan. 🚪