Dia berjalan dengan jas hitam seperti badai yang datang pelan, dia berdiri dengan set krem seperti cahaya yang enggan pergi. Di antara mereka, tidak ada suara—hanya tatapan dan langkah yang salah arah. Bab Kita Sudah Selesai terasa di setiap detail busana yang tak lagi serasi. 🎭
Koper itu dibuka—dan di dalamnya hanya laptop, handuk, dan satu gelas hitam. Tidak ada barang pribadi, tidak ada kenangan. Seperti hubungan mereka: rapi, fungsional, tapi kosong. Bab Kita Sudah Selesai bukan karena drama besar, melainkan karena keheningan yang terlalu sempurna. 🧳
Setiap kali dia menoleh, rambutnya mengalir seperti ingatan yang masih enggan pergi. Matanya mencari—bukan jawaban, melainkan alasan. Bab Kita Sudah Selesai bukan akhir cerita, melainkan detik sebelum dia memutuskan untuk berlari... atau tetap diam. 💫
Mereka berdiri di sisi tempat tidur, jarak satu langkah—cukup dekat untuk menyentuh, cukup jauh untuk lupa cara memeluk. Selimut pink terlihat lembut, tapi suasana dingin. Bab Kita Sudah Selesai ditulis bukan di kertas, melainkan di ruang kosong antara dua napas yang tak lagi seirama. 🌹
Kartu kuning itu bukan kunci pintu—melainkan kunci hati yang sudah retak. Dia memberikannya dengan dingin, dia menerimanya dengan ragu. Bab Kita Sudah Selesai dimulai bukan dari kata 'berpisah', melainkan dari gerakan tangan yang tak lagi menyentuh. 😶🌫️