Perempuan itu masuk dengan percaya diri, tas hitam menggantung di tangan, tapi saat Jovan muncul, seluruh tubuhnya berubah jadi pertanyaan tanpa suara. Koridor mewah, lantai marmer yang mencerminkan kebingungan—dia tak lari, hanya mundur pelan, seperti lagu yang diputar mundur. Bab Kita Sudah Selesai dimulai sebelum kata 'selamat tinggal' terucap. 💼
Saat semua orang sibuk membaca folder biru, dia diam-diam mengetik pesan: 'Aku sudah di tanganmu'. Layar ponselnya menyala seperti lampu darurat di tengah konferensi teknologi. Ironis? Ya. Romantis? Juga. Bab Kita Sudah Selesai bukan drama kantor—ini adalah perang dingin cinta yang dimainkan di antara slide presentasi dan air mineral botol. 📱
Dia berdiri di podium, suara mantap, senyum terkendali—tapi matanya terus mencari satu kursi. Di sana, Jovan duduk, tangan saling menggenggam, seperti sedang memegang sesuatu yang hampir lepas. Ruang besar, banyak orang, tapi hanya mereka berdua yang berada di dalam ruang waktu yang sama. Bab Kita Sudah Selesai dimainkan dalam frame yang sempit: antara napas dan detak jantung. 🎤
Jaket tweed emasnya berkilau di bawah lampu—simbol kekuatan yang rapuh. Jas hitam Jovan? Kaku, elegan, tapi penuh keraguan di setiap lipatan. Mereka tidak berbicara, tapi busana mereka bercerita: 'Aku masih di sini', 'Tapi aku tak bisa lagi'. Bab Kita Sudah Selesai bukan akhir, melainkan jeda panjang sebelum nada berikutnya dimainkan. 👗🖤
Detik-detik Jovan menatap jam tangannya—bukan karena terlambat, tapi karena ia sedang menghitung berapa lama lagi ia harus bertahan di dekatnya. Ekspresi dingin, jari-jari yang gemetar di bawah meja, semua tersembunyi di balik kemeja rapi. Bab Kita Sudah Selesai bukan tentang perpisahan, tapi tentang diam yang penuh makna. 🕰️