Dia datang dengan lengan tergantung, dia berdiri dengan gaun mengembang. Mereka berdua diam, tapi ruang antara mereka penuh suara tak terucap. Bab Kita Sudah Selesai jadi ironi ketika mereka masih saling menatap—seperti dua orang yang belum siap mengucapkan selamat tinggal. 🌫️
Saat dia mengangkat ponsel, waktu berhenti. Dia memilih panggilan daripada kata-kata yang tertahan. Sang wanita menunduk, lengan saling memeluk—bukan untuk cinta, tapi untuk menahan diri agar tak runtuh. Bab Kita Sudah Selesai dimulai dari detik itu. 📞
Setiap gaun di rak adalah cerita yang pernah mereka rencanakan. Tapi hari ini, hanya satu yang dipakai—dan bukan untuk pernikahan. Bab Kita Sudah Selesai terasa lebih nyata di tengah dekorasi putih yang terlalu bersih, seperti hati yang sudah dibilas tapi masih menyisakan noda. 🕊️
Tidak ada dialog keras, hanya napas yang tertahan dan senyum yang dipaksakan. Matanya berkata 'aku masih mencintaimu', sementara tangannya memegang lengan yang patah—simbol bahwa ia tak bisa lagi menangkap apa yang lepas. Bab Kita Sudah Selesai, tapi kenangan belum selesai berbisik. 🎭
Pria dengan gips biru itu berjalan pelan di koridor kaca—refleksinya terpecah seperti hubungan mereka. Di dalam toko gaun, sang wanita tersenyum lebar, tapi matanya berkata lain. Bab Kita Sudah Selesai bukan hanya judul, tapi kalimat yang tertulis di wajah mereka saat bertemu lagi. 💔