Dylan tidak menjawab pesan, tetapi jarinya mengetik 'sedang sibuk'—padahal ia hanya berdiri di koridor, menatap langit-langit. Wanita itu menunggu, memegang ponsel seperti pegangan kapal di tengah badai. Bab Kita Sudah Selesai dimulai dari detik kita berhenti berlari bersama. 📱
Ia memegang gelas, tetapi tidak minum. Hanya memutarnya bolak-balik, seolah waktu bisa diputar kembali. Buku di depannya terbuka di halaman yang sama sejak tadi—kata-kata terjebak, seperti perasaannya. Bab Kita Sudah Selesai bukan akhir, melainkan jeda sebelum kalimat baru ditulis. ✨
Ia datang dengan jas kotak-kotak, tangan saling menggenggam—sikap formal yang menyembunyikan kebingungan. Tidak ada kemarahan, hanya keheningan yang terlalu rapi. Bab Kita Sudah Selesai sering dimulai bukan dengan teriakan, melainkan dengan napas yang tertahan di tenggorokan. 🎩
Cahaya masuk lewat jendela, menyinari rambutnya yang bergelombang—ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. 'Ada yang ingin kukatakan...' lalu dikirim. Namun jawaban tak kunjung datang. Bab Kita Sudah Selesai bukan tentang siapa yang salah, melainkan siapa yang masih berani membuka obrolan terakhir. 💬
Jovan menelepon dengan ekspresi cemas, lalu tersenyum tipis setelahnya—seakan menutup luka dengan kain halus. Di meja, gelas anggur bergetar pelan, sementara buku-buku diam menyaksikan. Bab Kita Sudah Selesai bukan tentang putus cinta, melainkan tentang menghela napas sebelum melepaskan. 🍷