Botol keramik biru-putih di dalam kotak itu terasa seperti simbol: tradisi versus modernitas, harapan versus kekecewaan. Setiap kali pria itu membukanya, kita ikut deg-degan—apakah ini akhir atau awal dari pendekatan terhadap CEO?
Ekspresi Pak Qin Chenghong bukan kemarahan—melainkan kekecewaan yang lebih mengerikan. Ia tak perlu berteriak; tatapannya saja sudah cukup membuat pasangan muda itu saling pandang ketakutan. Pendekatan terhadap CEO ternyata bukan hanya soal cinta, melainkan diplomasi keluarga. 😅
Rambut keren plus jam tangan hijau = percaya diri palsu. Saat ia tersenyum ke arah wanita itu, matanya masih menghindar. Dalam pendekatan terhadap CEO, setiap aksesori memiliki makna—dan ia sedang bermain api. 🔥
Ia duduk di kursi mewah, tetapi jemarinya gemetar memegang ikat pinggang kimono. Gaun berkilau di adegan berikutnya? Bukan transformasi—melainkan bentuk pertahanan. Pendekatan terhadap CEO itu seperti berjalan di atas kaca, indah namun rentan pecah.
Saat kata-kata itu terucap, suasana berubah drastis. Bukan karena ancaman, melainkan karena semua tahu: ini bukan lagi drama cinta—ini pertarungan status. Pendekatan terhadap CEO ternyata memerlukan izin keluarga, bukan hanya hati. 💔