Dia memegang clipboard seperti senjata rahasia. Gaun berkilau tidak menyembunyikan kecerdasannya—setiap tatapan ke arah pria berjas hijau merupakan pertanyaan yang belum diucapkan. Pendekatan terhadap CEO bukan soal cinta, melainkan siapa yang lebih dulu mengungkap kartu 🃏
Dua pria berjas: satu tenang, satu gelisah. Yang berjas hijau berbicara pelan namun menusuk; yang berjas bergaris diam, tetapi matanya berteriak. Di tengah ruang mewah, mereka saling mengukur tanpa menyentuh. Pendekatan terhadap CEO adalah perang dingin versi kantoran 😅
Ekspresinya berubah dari percaya diri menjadi kikuk dalam 0,5 detik—seperti saat ketahuan mengintip chat mantan. Dia memakai kacamata tebal, tetapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa canggungnya di depan sang CEO. Pendekatan terhadap CEO memang membuat jantung berdebar dua kali 🫀
Ruangan elegan dengan bunga putih bernilai jutaan dolar, tetapi suasana terasa seperti rapat darurat. Semua tersenyum, namun tubuh mereka tegang. Pendekatan terhadap CEO bukan di kafe romantis—ini medan perang halus, di mana satu kata salah bisa berakhir di bagian SDM 📉
Dia berdiri dengan lengan silang, senyum tipis, dan mata yang selalu waspada. Bukan orang biasa—dia tahu segalanya sebelum terjadi. Dalam pendekatan terhadap CEO, ia mungkin hanya penonton, tetapi bisa jadi pemicu semua kerusuhan 🎭