Penebusan Sang Tabib
Dari laporan palsu hingga manipulasi media, Herry merasa memegang kendali. Namun satu siaran langsung menghancurkan segalanya. Warga mengaku dihasut. Skandal Obat Palsu Tanpa Kode meledak. Saham anjlok. Penangkapan terjadi. Yongki tak perlu membalas — kebenaran yang melakukannya.
Rekomendasi untuk Anda



印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Air Mata di Ujung Jarum Akupunktur
Saat jarum menusuk telapak kaki Wu Xiujin, Zhang Jianguo menangis diam-diam. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Penebusan Sang Tabib mengajarkan: terkadang penyembuhan dimulai dari pengakuan dosa, bukan dari resep dokter. 💔
Ruang Tunggu yang Penuh Dendam
Dua wanita duduk di bangku, infus menggantung, mata menatap kosong. Mereka bukan pasien—mereka saksi bisu atas kehancuran Li Yong. Penebusan Sang Tabib memperlihatkan betapa rumitnya batas antara pelaku dan korban dalam dunia medis pedesaan. 🪞
Termos Merah & Kebenaran yang Dingin
Termos merah itu bukan sekadar wadah air panas—ia adalah simbol keteguhan di tengah badai. Saat Li Yong menuang air ke mie instan, kita tahu: ia tidak lari dari tanggung jawab, meski dunia menuduhnya. Penebusan Sang Tabib adalah kisah tentang keberanian yang tak bersuara. 🔥
Darahnnya Mengalir, Hatinya Masih Berdetak
Wu Xiujin muntah darah, matanya membelalak—namun justru saat itulah Li Yong paling tenang. Ia tidak panik, hanya memegang tangannya erat-erat. Penebusan Sang Tabib mengingatkan: terkadang penyembuhan bukan terjadi di rumah sakit, melainkan di kamar sempit yang dipenuhi doa dan rasa sesal. 🌊
Ketika Mie Instan Menjadi Obat Jiwa
Li Yong menyeduh mie instan di termos sambil menonton berita tentang dirinya di televisi—ironi yang pahit. Di tengah hujatan, ia tetap merawat pasien dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja. Penebusan Sang Tabib bukan soal izin, melainkan kesabaran yang tak ternilai harganya. 🩸