Sinematografi dalam Aku, Kamu dan Masa lalu sangat mendukung cerita. Ruang makan terang benderang kontras dengan gudang minim cahaya. Ini melambangkan dua dunia yang dijalani sang tokoh utama: dunia sosialita dan dunia bawah tanah. Penggunaan bayangan di wajah pria berseragam menambah kesan misterius dan otoriter.
Dalam Aku, Kamu dan Masa lalu, kalung mutiara yang dikenakan wanita menjadi simbol kemewahan yang menipu. Saat ia memegang pisau berdarah dengan tangan yang sama yang sebelumnya memegang sumpit, terjadi dekonstruksi citra wanita lemah lembut. Pisau bukan sekadar alat, tapi perpanjangan tangan dari dendam yang terpendam.
Kehebatan Aku, Kamu dan Masa lalu terletak pada kemampuan bercerita tanpa dialog berlebihan. Tatapan mata, gerakan kecil, dan perubahan ekspresi wajah sudah cukup membangun narasi. Adegan pembunuhan yang cepat dan brutal kontras dengan adegan makan yang lambat, menciptakan ritme yang dinamis dan memikat.
Wanita dalam Aku, Kamu dan Masa lalu memainkan dua peran dengan sempurna. Di siang hari ia adalah istri atau tamu yang patuh, di malam hari ia adalah eksekutor dingin. Kostum berbeda bukan sekadar ganti baju, tapi ganti identitas. Penonton dibuat bertanya-tanya: mana wajah aslinya?
Setting gudang dalam Aku, Kamu dan Masa lalu dibangun dengan sangat baik. Tumpukan karung, drum minyak, dan cahaya lampu gantung yang redup menciptakan atmosfer suram dan berbahaya. Tawanan yang terikat dan berlumuran darah menambah kesan kejam dan tanpa ampun pada adegan tersebut.