Melihat sang Jenderal menangis histeris di depan jenazah yang ternyata adalah dirinya sendiri di masa depan, rasanya sakit sekali. Ia akhirnya sadar bahwa wanita yang ia sakiti adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Adegan di ruang mayat dalam Aku, Kamu dan Masa lalu ini menggambarkan penyesalan yang begitu mendalam hingga menembus waktu.
Karakter wanita berbaju putih benar-benar menyedihkan tapi kuat. Ia rela menderita demi orang yang justru menyakitinya. Adegan ia merangkak di tanah sambil memegang kalung itu sangat emosional. Dalam Aku, Kamu dan Masa lalu, pengorbanannya tidak sia-sia karena akhirnya membuka mata sang Jenderal tentang kebenaran yang selama ini tertutup.
Selain alur yang menarik, visual dalam drama ini sangat memanjakan mata. Kostum cheongsam merah dan seragam militer hijau tua terlihat sangat elegan dan berkelas. Latar rumah besar dengan taman yang luas menambah kesan dramatis. Aku, Kamu dan Masa lalu berhasil menghadirkan suasana era republik yang kental dengan estetika yang indah.
Perubahan emosi sang Jenderal dari arogan menjadi hancur lebur digambarkan dengan sangat apik oleh aktornya. Saat ia mencekik wanita itu lalu tiba-tiba teringat masa lalu, tatapan matanya benar-benar hidup. Dalam Aku, Kamu dan Masa lalu, aktingnya berhasil membuat penonton ikut merasakan kebingungan dan rasa sakit yang ia alami.
Adegan di ruang mayat yang gelap dan mencekam menjadi puncak ketegangan. Sang Jenderal yang terluka parah dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Tulisan Kamar mayat di layar menambah nuansa horor psikologis. Aku, Kamu dan Masa lalu berani mengambil risiko dengan adegan ini untuk menunjukkan konsekuensi dari tindakan masa lalu.