Di tengah gemerlap lampu neon biru dan ungu yang menyilaukan, sebuah ruang karaoke eksklusif bernama ‘Hollywood Party’ menjadi saksi bisu dari pertunjukan sosial yang lebih dramatis daripada film terbaru. Bukan sekadar tempat minum, tapi arena pertarungan status, di mana harga satu paket minuman bukan lagi soal rasa, melainkan simbol kekuasaan—dan dalam kasus ini, kegilaan kolektif yang mengarah pada kehancuran finansial yang disengaja. (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya tagline lucu; itu adalah mantra yang diucapkan dengan serius oleh para pelaku di sini, seolah-olah boros adalah bentuk ibadah modern yang pasti dibalas oleh alam semesta.
Awalnya, suasana terasa tegang namun terkendali. Seorang wanita berpakaian gaun berkilauan, dengan anting-anting rantai panjang yang berdentang setiap kali ia menggerakkan kepala, tampak cemas memegang lengan pria di sampingnya—Kevin, seperti yang disebutkan dalam dialog. Ekspresinya bukan ketakutan biasa, melainkan kekhawatiran yang terlalu terlatih: dia tahu apa yang akan terjadi, tapi tidak bisa mencegahnya. Di depan mereka, seorang pria berambut acak-acakan, mengenakan kaos hitam longgar dan kalung jangkar, tersenyum lebar sambil menyebut angka ‘376 juta’. Angka itu bukan sekadar nominal—itu adalah batas antara gengsi dan kehinaan. Dalam dunia ini, membayar paket Naga Dewa bukanlah pilihan, melainkan kewajiban sosial. Dan ketika Kevin, sang pria berjaket kulit, mengiyakan dengan nada datar—‘376 juta saja’—maka permainan dimulai. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada keraguan. Hanya kepastian bahwa uang akan mengalir seperti air di musim hujan, tanpa peduli siapa yang akan kehabisan.
Yang menarik bukan hanya jumlahnya, tapi cara mereka memperlakukannya. Pria berkaos hitam itu tidak terkejut. Ia bahkan tertawa, mengangkat satu jari, lalu dua, lalu tiga—seolah sedang menghitung jumlah orang yang akan ikut serta dalam kegilaan ini. ‘Kamu tahu tempat ini, lantai atas dan bawah… totalnya lebih dari 200 orang,’ katanya dengan nada bangga, seolah sedang memperkenalkan museum seni kontemporer, bukan klub malam yang dipenuhi orang-orang yang siap menghabiskan uang seperti sampah. Wanita bergaun kilauan itu hanya mengangguk pelan, matanya berkedip cepat—bukan karena cahaya, tapi karena ia sedang menghitung ulang saldo rekeningnya di kepala. ‘Satu orang satu paket,’ katanya pelan, seolah mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini masih masuk akal. Tapi kita semua tahu: ini bukan soal logika. Ini soal *image*. Dan di sini, *image* dibeli dengan kartu kredit, bukan dengan tabungan.
Lalu datanglah momen klimaks: pembayaran. Seorang pelayan wanita berbaju putih muda mendekat, memegang mesin EDC dengan tangan yang stabil—tanda ia sudah terbiasa dengan transaksi besar. Kartu kredit didekatkan, bunyi ‘beep’ lembut terdengar, dan layar menampilkan ‘Pembayaran berhasil’. Tapi kelegaan itu hanya sesaat. Pria berkaos hitam langsung meraih pergelangan tangan Kevin, wajahnya berubah drastis—dari senyum lebar menjadi ekspresi curiga yang tajam. ‘Pak, mohon simpan kartu Anda,’ katanya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. Kevin tidak bereaksi. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah sedang menunggu sesuatu yang lebih besar dari sekadar tagihan. Dan memang, sesuatu datang: pria berkaos hitam itu berteriak, ‘Mana mungkin? Kamu itu kurir makanan! Uang dari mana?’ Pertanyaan itu bukan untuk Kevin, tapi untuk seluruh ruangan. Ia sedang mempertanyakan realitas—bagaimana seseorang yang tampak biasa-biasa saja bisa membayar 60 miliar? Jawaban Kevin datang dengan dingin: ‘Jangan urus aku siapa.’ Kalimat itu bukan pembelaan, tapi deklarasi perang. Ia tidak butuh izin. Ia hanya butuh ruang untuk bermain.
Dan bermain ia pun. Dalam adegan berikutnya, kita melihat ruang utama klub yang penuh sesak. Meja-meja berisi kelompok pria berjas abu-abu, tersenyum lebar sambil mengangkat gelas. Seorang pelayan wanita berbaju ungu satin membawa tray berisi dua botol Martell XO dan Hennessy, wajahnya tenang seperti sedang mengantarkan surat penting. Subtitle menyatakan: ‘Malam ini semua konsumsi di tempat ini dibayar oleh seorang Tuan Muda.’ Kata ‘Tuan Muda’ bukan gelar, tapi julukan yang diberikan oleh mereka yang tak berani menyebut nama aslinya—karena takut terlalu banyak yang diketahui. Di meja utama, dua pria saling berbisik, salah satunya mengatakan, ‘Ada tuan kaya yang segarang ini ya?’ Lalu yang lain menjawab, ‘Sekali bayar langsung 60 miliar.’ Mereka tidak terkejut. Mereka hanya… terkesan. Karena di dunia ini, kekayaan bukan lagi rahasia—ia adalah pertunjukan publik yang harus diapresiasi.
Adegan paling menggelitik datang ketika salah satu pria berjas mulai mengingat masa lalu: ‘Lebih baik pikirkan gimana permalukan Kevin si pecundang itu di acara reuni sekolah.’ Kata ‘pecundang’ diucapkan dengan nada ringan, seolah sedang membahas cuaca. Tapi kita tahu: ini adalah luka lama yang baru saja diobati dengan alkohol dan kebanggaan palsu. Kevin, yang sedang berjalan keluar bersama wanita bergaun kilauan, tidak mendengar itu. Atau mungkin, ia mendengar—dan sengaja mengabaikannya. Karena di akhir video, saat mereka berdua berdiri di koridor berlampu biru yang futuristik, wanita itu menatap Kevin dengan mata berbinar, lalu berkata, ‘Kak Kevin, kamu baik banget ke aku.’ Dan di atas kepalanya, muncul hologram sistem: ‘Poin cinta Cahya bertambah 10. Saat ini: 70.’ Ini bukan lagi drama manusia biasa—ini adalah *game* sosial dengan skor, level, dan reward. (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya tentang uang; ini tentang bagaimana kita mengukur nilai diri melalui pengeluaran, dan bagaimana cinta pun bisa dihitung dalam poin digital.
Kevin tidak menjawab langsung. Ia hanya menatapnya, lalu dengan pelan, memegang dagunya—gerakan yang terlalu intim untuk lingkungan publik, tapi terasa alami di sini. ‘Kalau gitu kita bahas yang lain,’ katanya, suaranya rendah, penuh maksud. Wanita itu tersenyum, lalu balas bertanya, ‘Kak Kevin, mau aku berterima kasih gimana?’ Pertanyaan itu bukan permintaan, melainkan undangan. Undangan untuk masuk ke dalam dunia di mana terima kasih tidak diberikan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan—mungkin dengan satu paket lagi, atau dengan satu kejutan yang lebih besar. Kevin tersenyum tipis, lalu berkata, ‘Tergantung kamu aja.’ Dan ketika ia menambahkan, ‘Di sini kurang cocok,’ kita tahu: ini bukan akhir. Ini hanya intermisio sebelum bab berikutnya dimulai.
Yang paling mencengangkan bukan keborosan itu sendiri, tapi bagaimana semua orang di sekitarnya menerimanya sebagai norma. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang bilang ‘ini gila’. Mereka hanya mengangguk, tertawa, dan memesan minuman lagi. Bahkan pelayan pun tidak terkejut—mereka sudah terbiasa dengan orang-orang yang membayar 60 miliar seperti membayar parkir. Ini adalah dunia di mana uang bukan lagi alat tukar, tapi bahasa universal yang dipahami oleh semua. Dan siapa pun yang bisa berbicara dalam bahasa itu, akan didengarkan—meski hanya untuk satu malam.
Dalam konteks Hollywood Party, klub malam bukan sekadar tempat hiburan, tapi panggung bagi identitas yang dibangun dari konsumsi. Setiap botol yang dibuka, setiap paket yang dipesan, adalah batu bata dalam struktur gengsi yang rapuh. Kevin bukan tokoh yang ingin kaya—ia ingin diakui. Dan cara termudah untuk diakui di dunia ini? Boros. Sangat boros. Sampai titik di mana kekayaan tidak lagi diukur dari saldo bank, tapi dari seberapa banyak orang yang mengangguk hormat saat ia lewat. (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan ironi—ini adalah filosofi hidup baru yang dianut oleh generasi yang percaya bahwa keberuntungan datang dari keberanian menghabiskan, bukan dari kehati-hatian menabung.
Dan di akhir, ketika layar memudar dengan tulisan emas ‘Bersambung’, kita tidak merasa puas—kita merasa penasaran. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kevin benar-benar punya 60 miliar? Atau apakah ini semua adalah sandiwara besar yang akan runtuh dalam 24 jam? Wanita bergaun kilauan itu masih tersenyum, tapi matanya sedikit berkedip—tanda bahwa ia juga mulai ragu. Karena di dunia di mana cinta diukur dalam poin, dan harga diri dibeli dengan paket minuman, satu-satunya hal yang benar-benar gratis adalah keraguan. Dan keraguan itu, justru, adalah satu-satunya yang membuat kita tetap manusia—bukan karakter dalam serial Hollywood Party yang terlalu sempurna untuk jadi nyata.

