Di tengah gemerlap lampu biru dan ungu yang memantul di dinding bar bergaya futuristik, sebuah pertemuan antara dua dunia terjadi—dunia kerja yang bersih, rapi, dan penuh aturan, serta dunia malam yang liar, berisik, dan penuh godaan. Yang satu mengenakan blazer putih dengan trim merah-biru yang tegas, kalung rantai berlian, dan riasan yang sempurna; yang lainnya berpakaian kulit hitam, rambut acak-acakan, senyum licik, dan tatapan yang seolah bisa membaca pikiran orang hanya dari gerak jemarinya. Mereka bukan sekadar pasangan atau mantan—mereka adalah dua pemain dalam permainan cinta yang telah diatur oleh sistem tak kasatmata, dan (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya tagline, tapi filosofi hidup yang mereka jalani tanpa sadar.
Awal cerita dimulai dengan adegan yang sangat simbolis: seorang wanita terbaring di atas meja putih, matanya tertutup, napasnya tenang, sementara tangan seorang pria bergerak pelan di sepanjang leher dan dada blazernya—bukan sebagai tindakan agresif, melainkan seperti seorang ahli bedah yang sedang memeriksa luka tersembunyi. Detail kancing berkilau, jahitan presisi, dan garis-garis warna pada blazer itu bukan sekadar pernyataan fesyen; ia adalah pelindung, identitas, dan batas yang dia bangun untuk melindungi diri dari dunia yang tak bisa dipercaya. Saat dia membuka mata, ekspresinya bukan ketakutan, tapi kelelahan—kelelahan karena harus terus berpura-pura kuat, padahal dalam hati, dia sedang menunggu seseorang menyentuhnya dengan cara yang benar-benar jujur. Adegan ini bukan hanya pembuka, tapi pengantar ke dalam psikologi karakter utama: Jiang Wanning, seorang wanita yang telah belajar bahwa karier adalah satu-satunya hal yang tidak akan mengkhianatinya—sampai hari itu, ketika sistem digital muncul di atas kepalanya, menampilkan angka-angka yang tak masuk akal: *Jiang Wanning, skor cinta +5*, *skor cinta +5*, *skor cinta +5*… dan totalnya: **35**. Ini bukan efek visual biasa. Ini adalah tanda bahwa sesuatu telah berubah—bahwa hukum cinta di dunianya tidak lagi mengikuti logika manusia, tapi algoritma yang tak terlihat.
Di sisi lain, ada Kevin—seorang pria yang tampaknya lahir dari dunia yang berbeda. Dia duduk di bar, gelas whiskey di tangan, tersenyum lebar sambil memandang seorang wanita bernama Darma, yang mengenakan gaun berkilauan seperti bintang di malam hari. Teks di layar menyebutnya *Bos preman kaya*, dan meski label itu terdengar kasar, ada kehangatan dalam caranya berbicara: *Ayo minum denganku*. Dia tidak memaksakan, tidak mengancam—dia mengundang. Dan ketika Darma menjawab *Aku hari ini gak masuk kerja*, lalu *Mohon lepaskan aku*, Kevin tidak marah. Dia tertawa, lalu berkata *Ngapain pura-pura polos di hadapanku*. Itu bukan ejekan—itu pengakuan. Dia tahu dia sedang berhadapan dengan seseorang yang juga bermain peran, dan dia menghargai kecerdasannya. Di sinilah kita melihat kontras yang begitu tajam: di satu sisi, Jiang Wanning yang berjuang untuk menjaga integritasnya di tengah tekanan karier dan ekspektasi sosial; di sisi lain, Kevin yang hidup tanpa beban moral, tapi justru lebih jujur tentang niatnya. Keduanya sama-sama ‘boros’—Wanning boros energi untuk menahan emosi, Kevin boros uang untuk membeli kegembiraan—tapi rezeki mereka justru lancar, bukan karena keberuntungan, melainkan karena mereka berani bermain dengan aturan yang mereka pilih sendiri.
Adegan berikutnya membawa kita kembali ke ruang kerja modern, dengan layar LED raksasa yang menampilkan lukisan abstrak biru—seperti lautan yang tenang, tapi penuh arus bawah. Kevin berdiri di depan Wanning, tangan di saku, wajahnya serius untuk pertama kalinya. *Apa kamu gak panas?* tanyanya. Bukan pertanyaan fisik, tapi metafora: *Apakah kamu tidak lelah berpura-pura dingin?* Dan Wanning menjawab dengan nada datar: *Udah berkeringat*. Jawaban itu bukan kelemahan—itu pengakuan. Dia tidak menyangkal bahwa dia terpengaruh. Lalu, ketika dia berjalan pergi, lengan blazernya terangkat, dan kita melihat tato kecil di pergelangan tangannya—simbol yang jarang ditunjukkan oleh wanita seperti dia. Itu adalah jejak masa lalu, jejak kebebasan yang pernah dia miliki sebelum memilih jalan ‘aman’. Di saat itulah Kevin menghentikannya, memegang dagunya dengan lembut, dan berkata: *Kelak, belajarlah gimana caranya sugar baby melayani tuannya*. Kalimat itu terdengar provokatif, tapi dalam konteks ini, itu adalah tantangan—bukan untuk menjadi objek, tapi untuk menguasai permainan itu sendiri. Dia tidak ingin dia menjadi korban sistem, tapi pemain utama yang bisa mengubah skornya sendiri.
Di sini, kita mulai melihat inti dari (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar: boros bukan berarti sia-sia. Boros adalah investasi—investasi waktu, emosi, uang, bahkan harga diri—yang pada akhirnya menghasilkan keuntungan yang tak terduga. Wanning, yang selalu berpikir bahwa cinta adalah risiko yang harus dihindari, justru mendapat *+5 skor cinta* setiap kali dia berani mengatakan kebenaran. Kevin, yang tampaknya hanya mencari kesenangan, ternyata memiliki rencana jangka panjang: *Harus dapatkan yang lebih banyak*, *buat penuhi poin cinta*, *biar dia jadi bucinku*, dan *dan aku bisa serang Alvan si bajingan itu*. Kata-kata itu mengungkap bahwa dia bukan hanya playboy—dia adalah strategis. Dia tahu bahwa untuk mengalahkan musuhnya, Alvan, dia butuh sekutu yang kuat, cerdas, dan berani—dan Wanning adalah pilihan sempurna. Tapi yang menarik, dia tidak memaksanya. Dia memberi ruang. Dia menunggu sampai dia siap. Itu adalah bentuk penghormatan yang jarang ditemukan di dunia seperti ini.
Adegan di bar kembali muncul, kali ini dengan suasana yang lebih kacau: lampu laser berputar, orang-orang berjoget, gelas berdenting, dan seorang pria bernama Ali—teman sekolah Kevin—muncul dengan senyum lebar, memanggil Kevin sambil membuka lengan jaketnya seperti seorang pahlawan yang baru saja menang. Teks *Belum Selesai* muncul di layar, disertai kata *Bersambung* dalam bahasa Indonesia. Tapi kita tahu, ini bukan akhir. Ini adalah titik balik. Karena di balik semua pesta dan tawa, ada satu pesan yang terus bergema: cinta bukan soal siapa yang lebih kaya atau lebih cantik, tapi siapa yang berani mengubah skor hidupnya sendiri. Jiang Wanning, yang dulu hanya menghitung proyek dan deadline, kini mulai menghitung detak jantungnya sendiri. Kevin, yang dulu hanya menghitung uang dan kemenangan, kini mulai menghitung momen-momen kecil di mana dia benar-benar merasa *hadir*.
Dan inilah yang membuat serial ini begitu menarik: ia tidak memberi jawaban, tapi mengajukan pertanyaan. Apakah skor cinta itu nyata? Atau hanya ilusi yang diciptakan oleh sistem untuk membuat kita terus bermain? Apakah boros itu dosa, atau justru bentuk keberanian tertinggi? Dalam dunia di mana semua orang berusaha terlihat sempurna, justru mereka yang berani terlihat ‘boros’—boros waktu, boros emosi, boros harapan—yang akhirnya menemukan rezeki yang paling lancar: kedamaian dalam kejujuran. (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya judul, tapi mantra untuk generasi yang lelah berpura-pura. Dan ketika Wanning akhirnya tersenyum—bukan senyum diplomatis, tapi senyum yang matanya berbinar—kita tahu: permainan belum selesai, tapi dia sudah siap untuk memenangkannya. Di tengah hiruk-pikuk bar, di antara gemerlap lampu dan tawa palsu, ada satu kebenaran yang tak bisa disembunyikan: cinta sejati tidak datang dari skor yang tinggi, tapi dari keberanian untuk mengatakan *Aku lelah berpura-pura*. Dan ketika dia mengatakannya, sistem pun berkedip—lalu memberi bonus +10. Karena kali ini, dia tidak bermain untuk menang. Dia bermain untuk hidup.

