Di balik lampu neon ungu yang berkedip-kedip dan dinding berlapis poster seni abstrak, terjadi sebuah pertunjukan manusia yang lebih dramatis daripada film laga—sebuah konfrontasi yang bukan hanya soal cinta, tapi soal harga diri, uang, dan siapa yang benar-benar menguasai ruang itu. Ini bukan sekadar adegan di karaoke, ini adalah arena pertarungan psikologis yang dipicu oleh satu kalimat: ‘Poin cinta Cahya bertambah 10’. Ya, kita sedang menyaksikan momen klimaks dari serial populer (Dubs) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar, di mana sistem poin cinta bukan lagi metafora, melainkan realitas yang bisa dihitung, diukur, bahkan digunakan sebagai senjata. Cahya, dengan gaun berkilauan perak yang menyerupai bintang di malam gelap, duduk di tepi sofa hitam, tubuhnya tegak namun matanya berkelip-kelip seperti burung yang baru saja terbang masuk ke kandang singa. Ia tidak berteriak, tidak menangis—tapi ekspresinya lebih keras dari teriakan: campuran takut, ragu, dan sedikit harap. Saat poin cintanya naik dari 10 menjadi 60 dalam sekejap, ia tidak tersenyum. Ia menoleh. Dan di situlah Kevin muncul—berdiri tegak, jaket kulit hitamnya mengkilap di bawah cahaya LED, tangan kanannya terjulur, jari-jarinya menyentuh dagu Cahya dengan cara yang bukan romantis, melainkan dominan. ‘Aku tahu kamu akan menyelamatkanku’, katanya pelan, tapi suaranya menusuk seperti pisau yang diselipkan ke dalam sarung. Ini bukan pengakuan cinta. Ini adalah klaim kepemilikan. Dan Cahya, meski tangannya gemetar saat memegang lengan jaket Kevin, tidak menolak. Ia diam. Diam yang lebih berisik daripada teriakan.
Lalu datanglah sosok ketiga—pria dengan rambut acak-acakan, kaos hitam longgar, rantai berbentuk jangkar di leher, dan tatapan yang seolah-olah sudah membaca seluruh naskah hidup mereka sebelum masuk ruangan. Ia bukan tamu biasa. Ia adalah ‘orang yang akan urus kamu’, seperti yang diucapkannya dengan nada dingin, sambil menunjuk ke arah Kevin. Namanya tidak disebut langsung, tapi dari konteks dan gaya berbicaranya, kita tahu: ini adalah karakter utama antagonis dari seri Kebetulan, yang sering muncul sebagai ‘penyeimbang’ antara kekacauan emosi dan logika bisnis. Ia tidak marah karena cemburu. Ia marah karena ada gangguan pada sistem. Baginya, Cahya bukan objek cinta—ia adalah aset. Dan aset tidak boleh dimiliki tanpa izin. ‘Berani mukul aku?’, tanyanya, lalu menjawab sendiri: ‘Aku belanja di tempatnya’. Kalimat itu bukan ancaman biasa. Ini adalah deklarasi ekonomi. Di dunia (Dubs) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar, uang bukan hanya alat tukar—ia adalah bahasa universal yang bisa mengubah dinamika power dalam satu detik. Ketika Kevin menjawab ‘Kebetulan’, ia tidak hanya mengakui nama sang pria, tapi juga mengakui bahwa ia tahu siapa yang sedang menguasai meja itu. Dan itu membuat suasana berubah. Cahya mulai merasa sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan: ‘Berani rebut cewek dariku’. Kalimat itu bukan tantangan—itu permohonan. Permohonan agar Kevin tetap berada di sisinya, meski ia tahu bahwa posisinya semakin rapuh.
Pertengkaran pun memanas, bukan dengan tinju, tapi dengan angka. ‘20 miliar’, kata pria berjangkar itu, sambil mengangkat satu jari. Bukan dua, bukan lima—dua puluh. Angka yang cukup untuk membeli gedung, bukan hanya minuman di karaoke. Kevin tidak langsung menolak. Ia menatap Cahya, lalu berkata: ‘Kamu yakin sanggup menanggungnya?’. Pertanyaan itu bukan untuk pria berjangkar, tapi untuk Cahya. Ia sedang menguji apakah ia masih layak menjadi ‘target’—istilah yang digunakan oleh pria berjangkar saat ia mengatakan: ‘Aku bantu kamu capai target’. Di sini, kita melihat betapa dalamnya kritik sosial yang diselipkan dalam narasi ini. Dalam dunia (Dubs) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar, cinta dikuantifikasi, hubungan diukur dengan ROI, dan kesetiaan dihargai dalam satuan miliar. Cahya, yang awalnya tampak seperti tokoh romantis, ternyata berada di tengah-tengah jaringan transaksi emosional yang rumit. Ia bukan korban pasif—ia aktif memilih. Saat pria berjangkar memberi dua opsi: ‘kamu layani aku sampai puas’ atau ‘terus pura-pura suci’, Cahya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bibirnya bergetar, mata berkaca-kaca—bukan karena sedih, tapi karena ia sedang menghitung risiko. Ini bukan drama remaja. Ini adalah tragedi dewasa yang terjadi di ruang tertutup, di mana semua orang tahu aturannya, tapi tidak semua mau mengikutinya.
Adegan paling mencengangkan bukan saat pria berjangkar mengacungkan jari, tapi saat Kevin akhirnya berkata: ‘Coba lihat dirimu. Seorang kurir makanan’. Kalimat itu bukan hinaan—itu fakta yang disampaikan dengan dingin. Di dunia ini, identitas seseorang ditentukan bukan oleh hati, tapi oleh profesi, dompet, dan siapa yang bersedia membayar untuk kehadirannya. Pria berjangkar, yang sebelumnya tampak seperti penjahat, justru menjadi satu-satunya yang jujur: ‘Ngapain jadi pahlawan? Gak ngaca dulu, dirinya kayak apa’. Ia tidak ingin merebut Cahya—ia ingin memastikan bahwa Cahya tidak salah pilih. Dan ketika Kevin akhirnya mengulang angka ‘20 miliar’, lalu menambahkan ‘Cuma sedikit’, kita tahu: ini bukan soal uang. Ini soal harga diri. Siapa yang rela dianggap ‘kurir’ demi cinta? Siapa yang berani mengatakan ‘tidak’ pada 20 miliar demi sebuah janji? Cahya, di sudut ruangan, masih memegang lengan Kevin, tapi tangannya mulai longgar. Ia sedang mempertimbangkan. Dan di sinilah (Dubs) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar menunjukkan kejeniusannya: konflik tidak diselesaikan dengan kekerasan fisik, tapi dengan keheningan yang berat, dengan tatapan yang berbicara lebih banyak daripada dialog, dan dengan satu pertanyaan yang menggantung di udara: ‘Apa minuman termahal di sini?’. Pertanyaan itu bukan tentang alkohol. Itu tentang nilai. Nilai cinta. Nilai diri. Nilai uang. Dan di akhir adegan, ketika tulisan ‘Belum Selesai’ muncul dengan efek emas berkilau, disertai kata ‘Bersambung’, kita tidak merasa lega—kita merasa cemas. Karena kita tahu, di episode berikutnya, Cahya tidak akan lagi duduk di sofa. Ia akan berdiri. Dan kali ini, ia yang akan mengacungkan jari. Serial Kebetulan dan Makin Boros, Rezeki Malah Lancar telah berhasil menciptakan dunia di mana setiap gerak tubuh, setiap tatapan, dan setiap angka memiliki konsekuensi. Ini bukan hanya hiburan—ini cermin. Dan cermin itu sedang menunjukkan kepada kita: kita semua pernah berada di meja itu. Di mana kita harus memilih antara uang, cinta, atau harga diri. Dan tidak ada jawaban yang benar. Hanya pilihan yang kita tanggung sendiri.

