Gaun hitam-emasnya megah, namun matanya kosong seperti patung. Ia duduk di takhta, tetapi terlihat terkurung oleh mahkota dan harapan orang lain. Saat berbicara, suaranya lembut—namun justru itulah yang paling menakutkan. 🕊️ Yang Mulia Jenderal Wanita tahu: kekuasaan sejati bukanlah yang berada di atas takhta, melainkan yang bersembunyi di balik senyum.
Senyumnya manis, tetapi mata kirinya sedikit berkedip—tanda ia sedang menghitung langkah lawan. Gaun merahnya bersinar, namun detail bordir naga di bahunya? Bukan sekadar hiasan, melainkan peringatan. 🐉 Di Yang Mulia Jenderal Wanita, setiap benang memiliki makna, dan setiap cawan anggur bisa menjadi racun.
Gulungan itu tampak biasa, tetapi cara Li Xueyi memegangnya—dua jari di ujung, satu jempol di tengah—menunjukkan pelatihan militer. Bukan sekadar dokumen, ini adalah senjata tanpa darah. Saat diserahkan, napas semua orang berhenti. 📜 Yang Mulia Jenderal Wanita: kebenaran sering datang dalam bentuk yang paling tenang.
Dia tersenyum lebar, tetapi alisnya sedikit terangkat saat Li Xueyi duduk—tanda kecurigaan. Rambutnya dihiasi bunga, namun antingnya berbentuk pedang mini. 😏 Di Yang Mulia Jenderal Wanita, gadis muda bukan penonton, melainkan pemain catur yang belum menunjukkan kartu terakhirnya.
Anggur, anggur hijau, kue kecil—semua tersusun rapi, tetapi jarak antar piring? Terlalu presisi. Ini bukan jamuan, melainkan pertemuan diplomatik dengan latar belakang musik pipa yang pelan. 🍇 Yang Mulia Jenderal Wanita mengajarkan: di istana, makan malam bisa lebih mematikan daripada medan perang.