Ibu dalam gaun ungu langsung menyerang Xie An dengan ekspresi sedih bercampur marah. Gerakannya sangat dramatis, hingga Xie An kaget dan hampir kehilangan keseimbangan. Yang Mulia Jenderal Wanita hanya memandang dari kejauhan—dingin, tegas, dan penuh kendali. 🌸
Saat para pelayan jatuh berantakan, Yang Mulia Jenderal Wanita tetap tenang seperti angin sepoi-sepoi. Namun mata dan posturnya menyiratkan: 'Kalian semua belum apa-apa.' Adegan ini bukan tentang kekuatan fisik, melainkan dominasi psikologis. 💫
Perhatikan kalung hitam di pinggang Yang Mulia Jenderal Wanita—detail kecil yang mengisyaratkan status tinggi dan kekuasaan tersembunyi. Saat ia bergerak, kalung itu bergoyang pelan, bagai detak jantung yang tak terlihat. Yang Mulia Jenderal Wanita memang master kekuatan halus. 🖤
Tak ada dialog keras, namun setiap tatapan Xie An dan ibunya bagai pertempuran samurai. Ibu menangis, Xie An bingung, sedangkan Yang Mulia Jenderal Wanita hanya tersenyum tipis. Ini bukan drama keluarga biasa—ini adalah perang psikologis tingkat dewa. 🎭
Lukisan di dinding bukan sekadar dekorasi—terdapat kaligrafi kuno yang mengisyaratkan nasib tragis. Saat kamera memperbesar gambar itu, suasana langsung berubah gelap. Yang Mulia Jenderal Wanita berdiri di tengah, bagai penjaga rahasia masa lalu. 📜