Dia melepas apron perlahan sambil menatap tajam, dia diam di kursi dengan sendok di tangan—tapi kita semua tahu: ini bukan sarapan, ini sidang darurat. Model itu Ternyata CEO sukses menciptakan ketegangan dari hal sehari-hari 😅
Saat HP berdering dan nama 'Ibu' muncul, wajahnya langsung berubah dari kesal menjadi 'aku harus pura-pura bahagia'. Adegan telepon ini lebih dramatis daripada adegan konflik! Model itu Ternyata CEO benar-benar memahami psikologi keluarga 📞💔
Celana overall + kaos bergaris + kuncir dua—penampilan imut, tapi matanya tajam seperti sedang menghitung kerugian perusahaan. Model itu Ternyata CEO berhasil menciptakan karakter yang tampak polos namun di dalamnya adalah CEO sejati 🧠🔥
Tidak ada teriakan, tidak ada piring pecah—hanya tatapan, sendok yang diputar, dan napas dalam. Meja makan menjadi arena pertarungan halus. Model itu Ternyata CEO mengajarkan kita: drama terbaik adalah yang diam-diam membuat jantung berdebar 🍜⚔️
Dia tersenyum lebar saat menelepon ibu, padahal matanya masih menatap mantan yang baru saja pergi. Itu bukan senyum bahagia—itu senyum 'aku akan membalas dendam dengan sukses'. Model itu Ternyata CEO, master balas dendam halus 😇🔪