Di koridor berlampu biru yang mengkilap seperti lorong futuristik di sebuah klub malam mewah, segalanya terasa dipaksakan—namun justru karena itulah kita tak bisa berhenti menatap. Bukan hanya karena pencahayaan LED yang memantul di dinding marmer hitam, bukan pula karena para pria berpakaian hitam ala bodyguard yang berdiri tegak seperti patung, melainkan karena ada sesuatu yang lebih dalam: ketegangan emosional yang tersembunyi di balik senyum dingin dan tatapan kosong. Ini bukan sekadar adegan pembuka; ini adalah *overture* dari sebuah drama yang menggambarkan bagaimana cinta, uang, dan sistem digital telah menyatu menjadi satu entitas baru—yang bisa membuat seseorang merasa dicintai sekaligus dikontrol.
Adegan pertama menunjukkan seorang pria berbaju hitam dan kacamata aviator, berdiri di dekat wastafel hitam berkilau. Ia tampak tenang, bahkan agak sombong, sementara dua orang lainnya berdiri di belakangnya seperti bayangannya. Tiba-tiba, ia mengucapkan satu kata: “Cari!”—sebuah perintah singkat yang langsung mengubah arah narasi. Tak lama kemudian, kamera beralih ke wajah seorang pria muda dengan rambut hitam lebat, mata yang sedikit merah, dan ekspresi campuran khawatir dan bersalah. Ia berada di dekat seorang wanita berbusana metalik berkilau, yang ternyata sedang dalam kondisi sangat tidak nyaman. Wanita itu, yang kemudian diketahui bernama Han Mengyao, tampak seperti sedang dipaksa bersembunyi atau bahkan ditahan—dan bukan dalam arti fisik semata, melainkan psikologis. Saat ia menunduk, kalung mutiara besar di lehernya berkilauan, kontras dengan ketegangan di matanya. Di sini, kita mulai menyadari: ini bukan cerita tentang pencarian barang hilang, tapi pencarian identitas dalam dunia yang sudah diukur oleh angka.
Lalu datang adegan yang membuat napas tertahan: pria dengan rambut acak-acakan membuka pintu kamar mandi, lalu berlutut di lantai, seolah mencari sesuatu di bawah celah pintu. Kamera menangkap detail sepatu hitam dengan aksen oranye, dan kaki seorang wanita yang berdiri di dalam toilet jongkok—posisi yang tidak biasa untuk suasana mewah seperti ini. Ini adalah momen kunci: ruang privat yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru menjadi arena pengawasan. Di dinding toilet, terpasang papan peringatan berwarna hitam dengan tulisan “Dilarang Narkoba, Judi, Porno”, lengkap dengan nomor darurat 110. Ironisnya, larangan itu justru menjadi latar bagi adegan yang penuh dengan kekerasan halus—bukan kekerasan fisik, tapi kekerasan emosional yang disampaikan lewat tatapan, gerak tubuh, dan diam yang terlalu panjang.
Setelah itu, kamera beralih ke sudut pandang atas, menunjukkan Han Mengyao berdiri di toilet sementara pria lain berjongkok di depannya, tangan menyentuh kakinya. Adegan ini bukan erotis, bukan pula komedi—ini adalah ritual subordinasi yang dibungkus dalam estetika modern. Dan di tengah semua itu, muncul *system prompt* holografik di atas kepalanya: “Pemberitahuan Sistem: Han Mengyao, Nilai Jatuh Cinta -5, Nilai Jatuh Cinta Saat Ini -35”. Inilah inti dari seluruh narasi: cinta telah diubah menjadi skor, seperti game RPG, di mana setiap interaksi mengurangi atau menambah poin. Dan yang paling menyeramkan? Skor itu tidak hanya terlihat oleh karakter, tapi juga oleh penonton—kita ikut merasakan penurunan drastis itu seiring dengan ekspresi wajahnya yang semakin muram.
Di saat yang sama, muncul karakter lain: seorang wanita berbusana mini berkilau putih, bernama Maya, yang keluar dari lift dengan wajah penuh harap. Ia langsung berinteraksi dengan pria muda tadi—yang ternyata bukan sekadar teman, tapi *contact* yang sedang diuji kesetiaannya. Dialog mereka mengungkapkan konflik inti: “Kasih kontakmu… Nanti aku traktir kamu makan.” Lalu Han Mengyao menyela dengan nada dingin: “Maaf, aku gak kasih.” Pria itu menjawab dengan tenang: “Hei, kamu… Kamu berani nolak aku?” Jawaban Han Mengyao membuat darah membeku: “Nolak kamu, emang kenapa?” Ini bukan lagi soal cemburu—ini soal otonomi. Ia menolak bukan karena tidak cinta, tapi karena menolak untuk dijadikan objek transaksi emosional.
Di sinilah (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Justru Lancar mulai menunjukkan kejeniusannya: ia tidak hanya bercerita tentang cinta, tapi tentang *ekonomi perasaan*. Setiap kali seseorang “membeli” perhatian, waktu, atau bahkan kehadiran, ada biaya yang harus dibayar—dan bukan selalu dalam bentuk uang. Dalam adegan berikutnya, pria itu berkata pada dirinya sendiri: “Kenapa aku kasih uang ke Cahya buat bayar utang, dan uang buat biayai Aning, gak dapat bonus?” Lalu muncul *system prompt* lagi: “Tuan, harap perhatikan: syarat cashback adalah memberi wanita uang untuk berbelanja, sedangkan membayar utang Jiang Wanning dan Ti Liu Qingyan bukan termasuk kategori konsumsi, sehingga tidak memenuhi syarat cashback.”
Di sini, kita tersenyum getir. Dunia ini telah begitu jauh dari logika manusia biasa. Membayar utang teman? Itu bukan konsumsi. Memberi makan kekasih? Itu konsumsi. Menjaga harga diri? Itu kerugian. Dan ketika pria itu akhirnya berbaring di atas kasur bambu, membaca majalah komik sambil menggigit kue kering, kita menyadari: ia bukan tokoh jahat, bukan pahlawan, tapi korban dari sistem yang ia percaya. Ia tidak sadar bahwa ia sedang hidup dalam *game* yang aturannya ditulis oleh entitas tak terlihat—dan ia terus kalah karena terlalu yakin bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk cinta.
Adegan terakhir membawa kita ke layar ponsel: notifikasi “Streamer Lina yang kamu ikuti sudah mulai siaran”. Ia mengambil ponsel, tersenyum, lalu masuk ke live streaming dua wanita yang sedang bertanding—satu bernama Xia Linlin, satunya lagi tidak disebut namanya. Di layar, komentar penonton berjatuhan: “Imut”, “Harap”, “Gantian”, “Keren”. Tapi yang paling menusuk adalah teks yang muncul di tengah: “Bisa bantu vote aku gak?” Lalu Xia Linlin menjawab: “Aku sebentar lagi kalah.” Dan di tengah kekacauan itu, muncul tulisan emas besar: “Belum Selesai”.
Inilah kejeniusan (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Justru Lancar: ia tidak memberi jawaban, ia memberi pertanyaan. Apakah cinta masih mungkin di dunia yang diukur oleh poin? Apakah kita masih punya hak untuk menolak, ketika sistem mengatakan “kamu harus belanja”? Apakah menjadi boros justru cara terbaik untuk bertahan hidup—karena semakin banyak yang kamu keluarkan, semakin besar peluangmu untuk “diperhatikan” oleh sistem? Di sini, Han Mengyao bukan sekadar karakter, ia adalah simbol resistensi—wanita yang menolak untuk dihitung, yang lebih memilih kehilangan 35 poin daripada kehilangan dirinya sendiri. Sementara Xia Linlin, dengan air mata palsu dan senyum paksa di layar live, mewakili generasi yang telah belajar bahwa emosi adalah aset, dan aset harus dioptimalkan.
Yang paling menarik adalah bagaimana film ini menggunakan ruang sebagai metafora. Koridor biru = jalur kontrol. Toilet = ruang tersembunyi yang tetap diawasi. Kamar tidur dengan lampu meja kuning = satu-satunya tempat ia bisa bernapas, tapi bahkan di sana, sistem masih mengintip dari atas kepalanya. Bahkan saat ia berbaring, menatap langit-langit, kita tahu: ia tidak sendiri. Ada *algorithm* yang menghitung setiap detik ketidaknyamanannya.
Dan inilah yang membuat (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Justru Lancar begitu relevan: kita semua hidup di dunia yang mirip. Di mana *likes*, *followers*, dan *engagement rate* telah menggantikan kedalaman hubungan. Di mana kita sering bertanya, “Berapa nilai saya di matanya?” bukan “Apakah ia benar-benar melihat saya?” Adegan pria yang berlutut di lantai toilet bukan hanya metafora kekuasaan, tapi juga metafora kerentanan—kita semua pernah berlutut, dalam cara kita sendiri, demi seseorang yang mungkin bahkan tidak menyadari keberadaan kita.
Di akhir, ketika pria itu mengatakan “Sial, berarti aku rugi besar”, kita tahu: ia tidak rugi uang. Ia rugi kepercayaan. Ia rugi kemampuan untuk mencintai tanpa kalkulasi. Dan ketika ia bangkit, mengambil majalah komik, lalu tersenyum kecil—kita berharap ia akan menemukan jalan keluar. Bukan dengan menjadi lebih boros, bukan dengan mencari bonus baru, tapi dengan berhenti mempercayai sistem yang mengatakan cinta bisa diukur. Karena pada akhirnya, (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Justru Lancar bukan tentang uang atau poin—tapi tentang apakah kita masih berani jatuh cinta tanpa melihat skornya terlebih dahulu.

