Tak sangka bahawa antagonis berbaju hitam itu rupanya mempunyai sisi lemah. Di Dewa Turun, momen ketika dia terjatuh dan tubuhnya diselimuti asap ungu itu menandakan bahawa dia mulai kalah. Ekspresi wajahnya yang berubah dari sombong menjadi ketakutan itu lakonannya sangat kena. Penonton pasti akan puas melihat karma serta-merta seperti ini.
Harus diakui, adegan pertarungan di Dewa Turun ini koreografinya sangat kemas. Gerakan tangan yang mengeluarkan energi emas itu kelihatan natural, tak kaku. Ketika dia menangkis serangan musuh sambil terlentang di karpet merah, itu momen paling epik. Perincian kostum dan properti juga menyokong suasana pertarungan menjadi lebih hidup.
Salah satu perkara hebat dari Dewa Turun adalah reaksi para watak sampingan. Ketika protagonis menunjukkan kekuatannya, ekspresi terkejut dari lelaki berjambang dan wanita berbaju putih itu membuat suasana semakin dramatis. Mereka mewakili perasaan kita sebagai penonton yang ikut terbawa emosi. Rasanya menjadi satu dengan cerita yang disajikan.
Efek khas di Dewa Turun ini benar-benar memanjakan mata. Api yang menyala di tangan protagonis ketika dia bangkit dari keterpurukan itu sangat simbolik. Warnanya cerah dan kontras dengan latar belakang yang agak gelap. Perincian partikel cahaya yang terbang ketika energi dilepaskan itu sangat halus, tak murahan sama sekali.
Protagonis di Dewa Turun ini jenis wira yang tak banyak bercakap tetapi aksinya nyata. Ketika dia berdiri tegak walaupun baru saja terluka, itu menunjukkan mental baja. Kostum abu-abu dengan syal besar itu membuat dia kelihatan misterius tetapi karismatik. Penonton pasti akan jatuh hati dengan ketenangan dia di tengah kekacauan.