Konflik Pabrik
Arman, yatim piatu yang jadi konglomerat, menyamar untuk ungkap korupsi dan eksploitasi di pabrik dan perusahaan anak grupnya, menindak para pelaku, memperbaiki pabrik, menyelamatkan warga, lalu saat reuni SMA buka identitas untuk membalas dendam dan menemukan cinta sejati.
Rekomendasi untuk Anda




.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Tongkat Kayu vs Perban Putih
Detail kecil: tangan tua menekan lutut, lengan piyama berkerut saat marah. Konflik Pabrik mempertontonkan dua generasi yang saling menyalahkan dalam diam. Tidak ada teriakan, hanya napas berat dan tatapan yang menusuk. Kita semua pernah jadi salah satu dari mereka. 🪵🩹
Air Mata yang Tak Jatuh
Sang ayah mengusap wajah, tapi air matanya tertahan—bukan karena keras, tapi karena malu. Pria muda diam, bibir gemetar, seolah ingin membela diri tapi tak mampu. Konflik Pabrik mengingatkan: kadang pelukan lebih sulit daripada pertengkaran. 😔
Ruang Rawat Inap yang Penuh Dendam
Dinding krem, tempat tidur putih, infus di sudut—tapi suasana lebih dingin dari ruang operasi. Dialog tanpa suara, hanya gerak tubuh yang berbicara. Konflik Pabrik bukan drama keluarga biasa; ini tragedi kegagalan komunikasi antar generasi. 🏥🔥
Fist yang Tak Dilepaskan
Detik terakhir, tangan muda menggenggam erat—bukan untuk memukul, tapi menahan amarah. Sang ayah menunduk, seperti mengakui kekalahan. Konflik Pabrik mengajarkan: kekuatan sejati bukan di suara keras, tapi di kemampuan untuk diam dan tetap berdiri. ✊
Kepala Pabrik yang Lemas di Ranjang
Pria muda berpakaian piyama bergaris biru-putih, kepala dibalut perban—tampak lelah tapi teguh. Di depannya, sang ayah tua dengan tongkat kayu dan mata berkaca-kaca. Konflik Pabrik bukan hanya soal uang, tapi beban rasa bersalah yang menggerogoti jiwa. 🩹💔