Xiao Yu hanya berdiri, tangan memegang kipas, tetapi aura-nya lebih kuat daripada semua pria berjas di sekitarnya. Saat ia menoleh, seluruh ruangan terdiam. Di Anak Kebanggaan, kekuatan bukan berasal dari suara, melainkan dari ketenangan yang menyembunyikan badai ⚔️
Dia berdiri dengan tangan di saku, wajah datar, tetapi matanya tak pernah lepas dari Xiao Yu. Di balik jas elegannya, terasa ketegangan yang tak terucapkan. Anak Kebanggaan berhasil menangkap konflik diam-diam yang lebih mematikan daripada pertarungan fisik 🕶️
Saat Kakek membungkuk dan Xiao Yu menerima kipas, suasana berubah menjadi sakral. Ini bukan adegan biasa—ini penyerahan tanggung jawab, kepercayaan, dan takdir. Anak Kebanggaan pandai menyembunyikan kedalaman dalam gerakan kecil 🪷
Latar belakang berkilau, lampu bokeh mewah, tetapi wajah-wajah di depannya penuh beban. Kontras ini membuat Anak Kebanggaan terasa seperti lukisan klasik yang hidup—indah, tetapi menyimpan luka yang tak terlihat 💫
Kakek berpakaian putih itu memegang tongkat dan kartu kuno—seperti sedang mengadili nasib. Ekspresinya serius, tetapi ada kelembutan di matanya saat melihat Xiao Yu. Di Anak Kebanggaan, setiap gerakannya penuh makna, seperti mantra yang belum diucapkan 🌿