Di tengah gemerlap lampu kristal yang menggantung seperti hujan berlian di atas ruang pamer mewah, sebuah adegan pembukaan terasa begitu khas—bukan sekadar peragaan barang berharga, tetapi pertunjukan kekuasaan emosional dan ekonomi yang terselubung dalam senyum dingin dan tatapan tajam. Seorang wanita berpakaian hitam formal, berdiri tegak dengan kartu nama di tangan, menyapa seorang pria yang duduk di kursi berlapis kain putih dan pita kuning: “Selamat, Pak Alvan”. Namun bukan Alvan yang menjadi pusat perhatian—melainkan kalung berbentuk hati berbatu biru besar yang dipajang di manekin hitam, harga fantastisnya—200 miliar—disebutkan dengan nada datar, seolah itu hanya angka biasa. Inilah awal dari (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar, sebuah serial yang tidak hanya bercerita tentang uang, tetapi tentang bagaimana uang bisa menjadi alat manipulasi, pengukur nilai diri, bahkan senjata cinta yang tumpul.
Kevin, pria berjas hitam dengan rambut acak-acakan namun wajah yang terawat, muncul sebagai sosok yang tampak pasif di awal—duduk, memegang ponsel, menyimak tanpa ekspresi berlebihan. Namun ketika sang MC bertanya, “Mana mungkin!”, lalu menyorot kalung itu, Kevin tidak langsung bereaksi. Ia menatap, lalu tersenyum tipis—senyum yang bukan tanda kekaguman, melainkan pengakuan diam-diam bahwa ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Saat ditanya, “Kamu kan cuma bucin aja”, ia menjawab dengan tenang: “Saat kamu tinggalkan aku dan memilih dia… gak nyangka, kan?” Kalimat ini bukan keluhan—ini adalah pengakuan strategis. Ia sedang membangun narasi ulang: bukan dia yang kalah, tetapi dia yang *memilih* untuk kembali. Dan ketika ia berdiri, mengambil kalung itu dari manekin, lalu memberikannya pada Cahya—wanita berbusana hitam berkilau yang sebelumnya duduk diam di kursi—semua orang di ruangan itu tahu: ini bukan hadiah, ini adalah deklarasi ulang identitas.
Cahya, dengan gerakan lambat dan penuh arti, memasangkan kalung itu di lehernya. Kamera menangkap detail jemarinya yang halus, gelang emas di pergelangan, dan sorot mata yang berubah dari ragu menjadi percaya diri. Di layar hologram yang muncul di udara, tertera: “Poin cinta Cahya bertambah 50… Poin cinta saat ini 60”. Ini bukan sekadar efek visual—ini adalah metafora sistem nilai yang telah menggantikan logika manusia. Cinta di sini diukur dalam angka, dikuantifikasi, bahkan bisa *ditransfer*. Ketika Kevin tersenyum dan berkata, “Cuma barang kecil… Pakai saja”, ia tidak sedang merendahkan nilai kalung itu—ia sedang menunjukkan bahwa baginya, 200 miliar bukan lagi angka yang membuat napasnya sesak. Ia bahkan menerima notifikasi sistem: “Belanja 200 miliar untuk Cahya. Bonus 100 kali lipat, masuk 20 triliun”. Uang mengalir seperti air, dan ia tak lagi takut tenggelam—ia sudah belajar berenang di lautan emas.
Di sisi lain, ada Aning—CEO Grup Janandra, berpakaian putih elegan dengan detail garis merah-biru yang mencolok, berdiri tegak seperti kapten kapal yang baru saja melihat badai datang. Ia tidak terkejut ketika Kevin memberi kalung itu pada Cahya. Ia bahkan tersenyum, lalu mendekat dengan langkah mantap. “Halo, namaku Aning”, katanya, lalu menjabat tangan Kevin dengan sikap yang tidak kalah percaya diri. Di layar hologram muncul identitasnya: “Jiang Wanning, jabatan: CEO Creative Unlimited Company, poin cinta 10”. Angka 10 itu bukan kelemahan—itu adalah senjata. Ia tahu bahwa di dunia ini, siapa pun bisa dibeli, termasuk hati. Dan ketika ia berkata, “Kak, dia cuma pecundang”, ia tidak sedang menghina Kevin—ia sedang menguji batasnya. Apakah Kevin masih akan mempertahankan Cahya? Ataukah ia akan berpaling ke arah yang lebih menguntungkan?
Adegan berpindah ke Ruang VIP—tempat dengan lantai kaca transparan yang mencerminkan langit-langit, layar digital berukuran raksasa menampilkan lukisan bunga abstrak biru-putih, dan suasana yang dingin namun mewah. Kevin dan Aning duduk berhadapan di meja putih bersih, seperti dua pemain catur yang sedang mempersiapkan langkah selanjutnya. Aning membuka pembicaraan dengan nada santai: “Katanya mau bahas bisnis denganku”. Kevin menjawab dengan singkat: “Pak Kevin memang orang yang lugas”. Tetapi di balik kata-kata itu, ada tekanan. Aning tidak butuh penjelasan panjang—ia butuh komitmen. Dan ketika ia menyebut, “Perputaran dana perusahaanmu ada sedikit masalah… Sekarang sangat butuh investasi”, Kevin tidak langsung menolak. Ia menatapnya, lalu berbicara pelan: “Aku jammin asal kamu mau, kelak kamu akan menerima imbal hasil setidaknya 30%”. Ini bukan negosiasi—ini adalah taruhan. Ia tidak takut kehilangan uang; ia takut kehilangan kendali.
Yang paling menarik bukanlah transaksi finansialnya, melainkan dinamika emosional yang tersembunyi di balik setiap gestur. Ketika Kevin menyentuh dagu Aning dengan jari-jarinya yang dingin, lalu berbisik, “Tapi jadi sugar daddy-mu… aku bisa pertimbangkan”, wajah Aning tidak berubah—tetapi matanya berkedip sekali. Itu adalah momen kelemahan yang disengaja. Ia tahu bahwa Kevin sedang menguji apakah ia benar-benar hanya peduli pada bisnis, atau apakah ada celah untuk sesuatu yang lebih dalam. Dan di sinilah (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar menunjukkan kejeniusannya: ia tidak membuat karakter menjadi baik atau jahat, tetapi membuat mereka *realistis* dalam ambisi mereka. Mereka tidak jatuh cinta karena romansa—mereka jatuh cinta karena kalkulasi. Cahya bukan sekadar kekasih, tetapi aset yang meningkatkan nilai diri Kevin di mata publik. Aning bukan sekadar rival, tetapi mitra potensial yang bisa membawa kekuasaan baru. Bahkan pria berjas pink dan wanita berbaju tie-dye yang terlihat seperti pasangan ‘biasa’ di awal, ternyata adalah simbol dari kelas menengah yang terpinggirkan—mereka hanya bisa menatap dari jauh, bertanya-tanya: “Sejak kapan dia jadi sekaya ini? Apa dia sponsori wanita kaya?” Pertanyaan itu bukan kecemburuan—itu adalah kesadaran akan ketimpangan yang tak terelakkan.
Serial ini juga memainkan kontras antara *tampilan* dan *kenyataan*. Ruang pamer yang megah, kalung berharga 200 miliar, pakaian designer, semua itu adalah kulit luar. Di baliknya, ada telepon yang berdering dengan kabar darurat: “Kak Kevin, di rumahku ada masalah… Aku harus pulang dulu”. Cahya yang baru saja tersenyum puas, kini terlihat cemas. Kevin tidak menahan—ia hanya mengangguk, lalu berkata, “Pergilah”. Ini bukan tanda cinta yang lemah, tetapi tanda bahwa ia tahu: uang bisa membeli waktu, tetapi tidak bisa membeli kejujuran. Dan ketika Aning kemudian menghampiri Kevin dengan senyum yang lebih tajam dari pisau, lalu berkata, “Pak Kevin emang pandai bercanda”, ia tidak sedang memuji—ia sedang mengingatkan: jangan main-main dengan orang yang tahu cara membaca niatmu dari jarak satu meter.
Di akhir adegan, Kevin duduk sendiri di kursi kulit oranye, menatap layar digital yang memantulkan wajahnya sendiri. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menghela napas pelan, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Aku gak tertarik… Tapi jadi sugar daddy-mu, aku bisa pertimbangkan”. Kalimat terakhir itu—yang muncul di layar dengan efek emas berkilau—menjadi penutup yang sempurna. Ini bukan akhir cerita, tetapi awal dari permainan baru. Karena di dunia (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar, uang bukan tujuan—ia adalah bahasa. Dan siapa pun yang bisa berbicara dalam bahasa itu, akan selalu punya kursi di meja VIP. Bahkan jika kursi itu hanya berlapis kain putih dan pita kuning, seperti yang kita lihat di awal—tempat di mana semua drama dimulai, dan semua nasib berubah dalam satu kalung biru.

