(Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku: Ketika Dokumen Menjadi Senjata di Meja Kerja yang Dingin
2026-02-25  ⦁  By NetShort
https://cover.netshort.com/tos-vod-mya-v-da59d5a2040f5f77/4a4ae5164f3b43888c62981209a8f10a~tplv-vod-noop.image
Nonton semua episode gratis di aplikasi NetShort!

Dalam suasana ruang kerja yang dipenuhi cahaya biru lembut dari jendela berlapis kain transparan, seorang pria berpakaian rapi—kemeja putih dengan sweater hitam berkerah—duduk di balik meja kayu berukir mewah. Di depannya, lampu meja berhias kristal menyala redup, menyorot sebuah folder hitam yang ia pegang erat. Tangan kirinya menggenggam pena, sementara tangan kanannya membuka halaman pertama dokumen berjudul *Proyek Sistem Medika Cerdas*, dengan tulisan Mandarin dan logo teknologi futuristik di sisi kiri. Subtitle muncul: *Hadi*. Lalu, *Proyek ini*. Ia tidak bicara keras, tapi tatapannya tajam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar laporan proyek. Ini bukan hanya soal bisnis—ini adalah titik balik. Ruangannya terasa sunyi, kecuali desau daun tanaman hijau di sudut dan denting jam dinding yang tak terlihat. Semua elemen disusun dengan presisi: rak buku kaca berisi buku-buku kuning tua, patung kecil di atas lemari, bahkan posisi kursi kayu yang sedikit miring—semua memberi kesan bahwa tempat ini bukan hanya kantor, tapi benteng pribadi. Dan di tengah ketenangan itu, ia mengucapkan: *mewakili impian kita bersama*. Kalimat sederhana, tapi berat. Karena dalam dunia (Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku, impian sering kali menjadi jebakan yang dibungkus dengan emas.

Lalu, pintu terbuka. Seorang wanita muda masuk, berpakaian setelan krem elegan dengan detail manik-manik hitam dan mutiara di kerah serta kantong. Rambutnya diikat rapi, anting mutiara bulat, bibir merah menyala—penampilan yang tidak bisa diabaikan. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak menyentuh matanya. Di belakangnya, seorang pria muda berjas rompi hitam dan dasi bermotif, wajahnya tenang, tapi mata yang mengawasi segalanya. Wanita itu memegang gelas susu bening, dan saat ia meletakkannya di meja, kamera menangkap detil: jari-jarinya gemetar sedikit. Subtitle: *Kalian...*. Pria di belakang meja bangkit, wajahnya berubah—dari fokus menjadi terkejut, lalu beralih ke dingin. *Ayah*. Kata itu keluar pelan, tapi seperti guntur di ruang tertutup. Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menatapnya, lalu menoleh pada pria di belakangnya, dan berkata: *Sudah larut*. Bukan penjelasan, bukan permohonan—tapi pernyataan yang mengandung banyak makna. Apakah ini pertemuan pertama? Atau yang ke-berapa? Dalam (Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku, waktu bukan diukur dalam jam, tapi dalam jumlah gelas susu yang diletakkan di meja, dalam cara seseorang menyentuh lengan orang lain, dalam detak jantung yang tersembunyi di balik senyum.

Pertanyaan pun mulai mengalir seperti air yang menggerus batu. *Kok masih kerja?* tanya wanita itu, suaranya lembut tapi menusuk. Pria di meja tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas susu itu, memandangnya sejenak, lalu menatap mereka berdua. *Kalian belum istirahat?* katanya, nada datar. Di sini, kita melihat dinamika yang rumit: ia bukan lagi bos, bukan lagi ayah yang biasa—ia berada di antara dua peran yang saling bertabrakan. Pria muda di belakang wanita itu akhirnya berbicara: *Aku dan Vania*. Lalu, *lihat Ayah banyak pikiran*. Kalimat itu bukan simpati—itu strategi. Ia tidak mengatakan *kami khawatir*, tapi *Ayah banyak pikiran*, seolah-olah ia sedang membaca situasi, bukan merasakannya. Dan ketika pria di meja menjawab *sepulang dari kantor*, lalu *jadi sengaja cari ayah*, kita tahu: ini bukan kebetulan. Mereka datang untuk sesuatu. Bukan untuk minum susu. Bukan untuk menanyakan kabar. Mereka datang untuk mengklaim sesuatu—atau menghancurkan sesuatu.

Wanita itu kemudian mengeluarkan kalimat yang mengguncang: *Setelah ngobrol sama Bu Wanda, kamu jadi aneh*. Nama *Bu Wanda* muncul seperti petir di langit senja. Siapa dia? Mengapa percakapan dengannya mengubah segalanya? Pria di meja tidak menyangkal. Ia hanya menatapnya, lalu bertanya: *Apa itu dokumen dari Bu Wanda?* Suaranya tetap tenang, tapi matanya berkedip lebih cepat. Wanita itu tersenyum tipis, lalu berkata: *Cuma urusan pekerjaan*. Tapi kita tahu—tidak ada yang disebut *cuma urusan pekerjaan* di dunia (Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku. Setiap dokumen adalah surat cinta yang disembunyikan, setiap rapat adalah panggung teater kecil, dan setiap gelas susu adalah simbol pengkhianatan yang belum sempurna.

Lalu datang momen paling memilukan: *Kamu jujur saja sama aku*. Wanita itu menatapnya, suaranya bergetar, tapi ia tidak menangis. Ia memilih kejujuran sebagai senjata terakhir. Pria di meja menatapnya, lalu menjawab: *Kamu dan Bu Wanda*. Ia tidak mengelak. Ia tidak membantah. Ia hanya menyebut nama itu—sebagai pengakuan diam-diam. Dan ketika wanita itu bertanya *sebenarnya ada hubungan apa?*, jawaban yang keluar bukan penjelasan, tapi pertanyaan balik: *Kamu takut aku keberatan ya?* Di sini, kita melihat kecerdasan emosional yang luar biasa. Ia tidak menjawab pertanyaan, tapi mengalihkan beban kepadanya. Siapa yang sebenarnya takut? Siapa yang sedang mencoba mengendalikan narasi?

Dan akhirnya, konflik mencapai puncaknya ketika wanita itu mengatakan: *Waktu aku umur 3 tahun, ibu sudah meninggal*. Kalimat itu bukan latar belakang—itu adalah bom waktu. Ia tidak mengatakan *ibu saya meninggal*, tapi *ibu sudah meninggal*—seolah-olah kematian itu bukan kejadian, tapi kondisi yang terus-menerus menghantui. Lalu ia melanjutkan: *Selama ini kamu selalu mengurusku dan sibuk kerja*. Dan di sini, pria di meja akhirnya menunjukkan ekspresi yang paling manusiawi: ia menunduk, lalu berkata: *Melihatnya saja, aku ikut capek untukmu*. Bukan *maaf*, bukan *aku sayang kamu*, tapi *aku ikut capek untukmu*. Kalimat yang penuh empati, tapi juga kelelahan. Ia tidak menyangkal, tidak membela diri—ia hanya mengakui bahwa ia melihat, ia merasakan, dan ia lelah.

Pria muda di belakangnya kemudian menyela: *Ada yang bisa menenanimu*. Dan wanita itu menjawab: *Aku juga sangat senang untukmu*. Kalimat yang terdengar positif, tapi dalam konteks ini, itu adalah pisau yang diselimuti sutra. *Senang untukmu*—bukan *senang bersamamu*. Perbedaan satu kata, tapi perbedaan antara dukungan dan pasrah. Dan ketika pria di meja memanggil *Vania*, lalu wanita itu menjawab *Jadi Ayah*, kita tahu: ini bukan lagi soal proyek medis, bukan lagi soal dokumen, bukan lagi soal Bu Wanda. Ini adalah soal identitas. Siapa Vania sebenarnya? Anak kandung? Anak angkat? Atau… sesuatu yang lebih rumit? Dalam (Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku, nama bukan sekadar label—nama adalah klaim atas warisan, atas cinta, atas hak untuk berada di meja ini.

Di akhir adegan, wanita itu menyentuh lengan pria di meja, lalu bertanya: *Lalu sebelumnya?* Ia tidak menanyakan *apa yang terjadi*, tapi *sebelumnya*—seolah-olah masa lalu adalah satu-satunya hal yang masih bisa diperbaiki. Pria itu menjawab: *Dulu*. Hanya satu kata. Tapi dalam dunia ini, *dulu* adalah tempat semua kebohongan dimulai, tempat semua janji dilanggar, tempat semua cinta berubah menjadi kewajiban. Dan ketika ia berkata *kami teman kuliah*, lalu wanita itu membalas *Teman kuliah?*, kita tahu: ini bukan pertanyaan—ini adalah penghinaan halus. Karena dalam (Dubsing) Aku Hukum Perselingkuhan Putriku, *teman kuliah* sering kali adalah kode untuk *orang yang pernah tidur di sampingmu sebelum kamu menikah*.

Adegan berakhir dengan pria di meja menatap mereka berdua, lalu berkata pelan: *Jadi ibuku...*. Kalimat yang tidak selesai. Tapi kita semua tahu apa yang akan diucapkannya. Karena dalam cerita seperti ini, kebenaran bukan sesuatu yang diucapkan—ia adalah sesuatu yang ditahan, dipendam, lalu meledak saat gelas susu jatuh dan pecah di lantai kayu. Dan di balik semua itu, ada satu hal yang tak pernah disebutkan: siapa sebenarnya *Bu Wanda*? Apakah ia mantan istri? Sahabat lama? Atau… ibu kandung Vania? Jawabannya mungkin ada di dokumen yang masih tertutup di meja itu—tempat impian dan pengkhianatan bertemu, di bawah cahaya lampu kristal yang tak pernah berbohong.

Anda Mungkin Suka