(Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku: Ketika Rapat Menjadi Arena Perang Sunyi di Grup Renova
2026-02-25  ⦁  By NetShort
https://cover.netshort.com/tos-vod-mya-v-da59d5a2040f5f77/469312efdc0c4c3cbef2ce44b70830ef~tplv-vod-noop.image
Nonton semua episode gratis di aplikasi NetShort!

Di ruang rapat berdinding putih bersih, dengan meja kayu panjang yang mengkilap dan layar besar bertuliskan ‘Rong Ying Group Dewan Direksi’—sebuah nama perusahaan yang terasa megah namun dingin—terjadi sesuatu yang jauh lebih mematikan daripada pertemuan bisnis biasa. Ini bukan sekadar diskusi anggaran atau evaluasi kinerja. Ini adalah pertempuran identitas, kekuasaan, dan dendam yang terselubung dalam bahasa formal, senyum tertahan, dan tatapan yang menusuk seperti pisau bedah. Dan di tengah semua itu, (Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku bukan hanya judul drama—ia adalah mantra yang menggema dalam setiap kalimat yang diucapkan, setiap gerak tubuh yang dipaksakan tenang, setiap napas yang ditahan sebelum meledak.

Pria muda berjas abu-abu muda itu berdiri tegak, tangan rapi di sisi tubuh, mata menatap lurus ke depan—bukan dengan kepercayaan diri, tapi dengan kekakuan yang mengisyaratkan bahwa ia sedang berusaha menahan gelombang emosi yang menghantam dari dalam. Ia menyebut dirinya ‘tidak pernah bernegosiasi kontrak’, lalu bertanya, ‘Kenapa?’—suara rendah, tapi penuh beban. Di belakangnya, sosok dalam jas biru tua berdiri diam, wajahnya tak berkedip, seperti patung yang dipasang untuk mengawasi. Tapi siapa pun yang melihat ekspresi matanya tahu: ini bukan penjaga, ini adalah pelaku utama yang sedang menunggu momen tepat untuk menginjak pedal gas. Di ujung meja, seorang wanita berpakaian putih elegan—blazer tweed berhias manik-manik, kalung mutiara ganda, bunga kain putih di dada—duduk dengan postur sempurna, namun jemarinya menggenggam tepi laptop seperti sedang memegang senjata. Matanya tidak menatap si muda berjas abu-abu, tapi menatap *dia*—si jas biru tua—dengan campuran kekecewaan, kemarahan, dan sesuatu yang lebih dalam: pengkhianatan yang sudah lama disimpan dalam lemari rahasia.

Lalu datanglah Pak Gavin—nama yang disebut dengan nada sinis oleh si muda berjas abu-abu, dan dengan nada hormat palsu oleh orang-orang di sekitarnya. Pak Gavin, dengan jas abu-abu gelap dan dasi bergaris, duduk santai, tangan saling menggenggam di atas meja, senyum tipis di bibir. Ia mengatakan, ‘Kami akui kamu punya kemampuan… juga mengakui Grup Renova bisa sukses.’ Tapi lalu ia menambahkan, ‘Tapi tidak mungkin… karena masalah kecilmu.’ Kata ‘kecil’ itu diucapkan dengan sangat lembut, seolah-olah sedang memberi hadiah, padahal itu adalah pisau yang dimasukkan perlahan ke dalam dada. Ia tidak menyebut apa masalahnya. Tapi semua orang di ruangan itu tahu. Bahkan kamera yang menangkap ekspresi si wanita berpakaian putih—matanya berkedip cepat, bibirnya mengeras, napasnya sedikit tersendat—membuktikan bahwa ‘masalah kecil’ itu adalah bom waktu yang telah lama dipasang di bawah kursi rapat.

Dan inilah titik balik: ketika Pak Gavin menyebut, ‘Perusahaan punya banyak karyawan wanita,’ si wanita berpakaian putih langsung tersenyum—bukan senyum ramah, tapi senyum yang mengandung racun manis. Ia berdiri, langkahnya mantap, dan berkata, ‘Kalau kamu tersangka pelaku pelecehan… diangkat jadi CEO?’ Suasana berubah dalam satu detik. Udara menjadi berat. Si muda berjas abu-abu menatapnya dengan mata membulat, seperti baru menyadari bahwa ia bukan satu-satunya yang membawa senjata ke rapat ini. Si jas biru tua—yang selama ini diam—akhirnya bergerak. Ia berdiri, berjalan perlahan mengelilingi meja, lalu berhenti di depan si wanita. Tatapan mereka saling bertabrakan. Tidak ada kata. Hanya napas yang terdengar, dan detak jantung yang mulai berpacu.

Kemudian, si jas biru tua berbicara. Dengan suara yang tenang, tapi tegas seperti hukuman yang sudah final: ‘Saat ini, mengenai opini publik tentang aku dan Gavin… aku akan adakan konferensi pers dan menjelaskan kepada publik soal penurunan saham dan kerugian di laporan keuangan.’ Ia tidak menyangkal. Ia tidak membantah. Ia *menggunakan* tuduhan itu sebagai senjata. Dan di saat yang sama, si wanita berpakaian putih menatapnya dengan pandangan yang berubah—bukan lagi marah, tapi *takjub*. Karena ia baru menyadari: ini bukan pertarungan antara korban dan pelaku. Ini adalah pertarungan antara dua orang yang sama-sama tahu segalanya, dan kini memilih untuk membuka kartu terakhir di tengah rapat direksi.

Lalu datanglah momen paling memilukan: si wanita berpakaian putih mengarahkan jari ke arah si jas biru tua dan berkata, ‘Demi membela seorang bajingan… Kamu ingin merugikan seluruh aset keluarga Seyna?’ Nama ‘Seyna’—yang muncul tiba-tiba—menyentak semua orang. Ini bukan sekadar nama perusahaan. Ini adalah nama keluarga. Nama yang menghubungkan semua karakter dalam rantai darah dan kekuasaan. Dan ketika si jas biru tua menjawab, ‘Justru kamu yang gak waras!’—suaranya meninggi, wajahnya memerah—ia bukan lagi CEO yang tenang. Ia adalah seorang pria yang sedang kehilangan kendali atas narasi yang selama ini ia ciptakan sendiri.

Di sini, (Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku bukan lagi hanya tagline promosi. Ini adalah janji yang diucapkan oleh sang pembuat cerita: bahwa di balik dinding kaca kantor yang bersih, di balik laporan keuangan yang rapi, dan di balik senyum profesional yang terlatih—ada manusia yang sakit hati, yang dikhianati, yang dipaksa bermain peran hingga lupa siapa dirinya sebenarnya. Si muda berjas abu-abu? Bukan hanya karyawan baru yang berani bicara. Ia adalah cermin bagi semua orang yang pernah diam demi kepentingan. Si wanita berpakaian putih? Bukan hanya istri atau saudari yang marah. Ia adalah simbol dari generasi baru yang menolak diam ketika keadilan dikorbankan demi stabilitas semu. Dan Pak Gavin? Ia adalah wajah dari sistem yang masih percaya bahwa uang dan jabatan bisa menutupi segala dosa—sampai suatu hari, seseorang berdiri di tengah rapat dan mengatakan, ‘Aku tahu semua.’

Yang paling menarik adalah bagaimana film ini menggunakan *ruang rapat* sebagai panggung teater politik. Tidak ada adegan kejar-kejaran, tidak ada ledakan, tidak ada pistol di bawah meja. Semua kekerasan terjadi dalam bentuk kalimat yang diucapkan pelan, tatapan yang berlangsung tiga detik lebih lama dari seharusnya, dan gerakan tangan yang menggenggam pena seperti sedang memegang pedang. Ketika Pak Gavin mengangkat selembar kertas berjudul ‘Laporan Penyalahgunaan Dana Proyek’, ia tidak menunjukkannya ke siapa pun. Ia hanya memegangnya, lalu berkata, ‘Kalau opini publik gak bisa dijadikan alasan untuk memecat Pak Gavin… Gimana dengan laporan penyalahgunaan?’ Dan si wanita berpakaian putih, dengan senyum dingin, menjawab, ‘Dana proyek dan menerima suap?’ Itu bukan pertanyaan. Itu adalah vonis yang sudah siap dieksekusi.

Di akhir adegan, si muda berjas abu-abu berdiri diam, mata membelalak, napas tersengal. Wajahnya pucat. Ia bukan lagi orang yang berani bicara. Ia adalah korban dari kebenaran yang ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ia pikir ini tentang keadilan. Ternyata ini tentang *kekuasaan*. Ia pikir ia membela kebenaran. Ternyata ia hanya menjadi alat dalam pertarungan dua raksasa yang sudah lama saling menghancurkan dari dalam. Dan di saat itulah, (Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku benar-benar menemukan maknanya: bukan hanya tentang seorang ayah yang menghukum kekasih putrinya—tapi tentang sebuah keluarga yang runtuh karena kebohongan yang dipelihara selama bertahun-tahun, dan kini harus dibongkar di depan publik, di tengah rapat direksi, dengan latar belakang logo perusahaan yang masih bercahaya terang—seolah-olah menertawakan semua yang terjadi di bawahnya.

Film ini tidak memberi jawaban. Ia hanya menanyakan: siapa yang benar-benar bersalah? Apakah orang yang berbohong demi melindungi keluarga? Atau orang yang diam demi menjaga reputasi? Apakah keadilan bisa ditegakkan tanpa menghancurkan segalanya? Dan yang paling menyakitkan: apakah kita semua, di dunia nyata, sedang duduk di meja rapat yang sama—dengan jas rapi, senyum pasif, dan hati yang penuh luka yang tak pernah diakui?

Jika Anda pernah merasa bahwa di tempat kerja, di keluarga, atau bahkan di dalam diri sendiri—ada sesuatu yang salah, tapi tak berani diucapkan… maka (Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku bukan hanya tontonan. Ini adalah cermin. Dan di dalam cermin itu, Anda mungkin akan melihat diri Anda—berdiri di tengah rapat, tangan di sisi tubuh, mata membulat, bertanya dalam hati: ‘Kenapa?’

Anda Mungkin Suka