Di tengah kemegahan acara peluncuran produk ‘Kangyue Intelligent Medical System’ yang diselenggarakan oleh Grup Rongying, suasana formal berubah menjadi medan pertempuran diam-diam—bukan dengan senjata api, melainkan dengan kalimat tajam, tatapan dingin, dan dokumen yang dianggap sebagai bukti kejahatan. Ruangan luas dengan dekorasi elegan, meja-meja putih yang tersusun rapi, serta layar raksasa berlatar biru berteknologi tinggi justru menjadi panggung bagi konflik yang lebih dalam daripada sekadar perselisihan bisnis. Di sana, Grup Renova dan Grup Lugano bukan lagi hanya pesaing pasar, melainkan dua kubu yang saling mencurigai, bahkan saling menghakimi di hadapan publik.
Pusat perhatian tertuju pada seorang pria muda berambut acak-acakan, berpakaian blazer kotak-kotak cokelat tua, turtleneck hitam, dan rantai perak yang menggantung di leher—seorang tokoh yang tidak tercantum dalam daftar panitia, namun berani berdiri di tengah panggung merah, menantang otoritas yang telah tersusun rapi. Ia bukan tamu undangan, bukan pembicara resmi, tetapi ia datang dengan satu misi: menghentikan peluncuran produk baru yang diduga hasil plagiarisme. Kata-kata pertamanya, “tidak akan mentoleransi tindakan plagiarisme!”, bukan sekadar retorika—ia menggema seperti guntur di ruang yang sebelumnya dipenuhi tepuk tangan sopan. Ekspresinya tenang, namun matanya menyala dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia tidak berteriak, tidak mengacungkan jari, hanya berdiri tegak, tangan di saku, dan menyampaikan bahwa mereka telah menyiapkan proses hukum terhadap Grup Renova. Di belakangnya, seorang wanita berbusana krem mewah berdiri di balik podium emas, wajahnya memucat, bibir merahnya bergetar—ini bukan sekadar kejutan, melainkan serangan langsung ke inti reputasi perusahaan.
Yang menarik bukan hanya keberanian pria itu, tetapi cara ia membangun narasi. Ia tidak langsung menyerang dengan tuduhan kasar; ia memulai dengan pengakuan: “Kami telah menyiapkan proses hukum… untuk menuntut Grup Renova.” Lalu ia melanjutkan dengan nada yang lebih rendah, lebih personal: “segera tarik produk baru kalian dan minta maaf.” Ini bukan permintaan—ini adalah ultimatum yang dikemas sebagai kesempatan terakhir. Ia bahkan menyebut “seluruh kerugian kami” selama bertahun-tahun, mengisyaratkan bahwa konflik ini bukan lahir semalam, melainkan akumulasi dari ketidakadilan yang terpendam. Ketika wanita di podium mencoba membantah dengan klaim bahwa produk tersebut merupakan hasil kerja keras tim selama bertahun-tahun, pria itu hanya tersenyum tipis—senyum yang penuh makna, seolah berkata: *kau kira aku tidak tahu?* Dan pada saat itulah, penonton di kursi mulai berbisik, beberapa mengangguk, seorang jurnalis muda dengan mikrofon bertuliskan ‘ZHUOYUE NEWS’ mulai mencatat dengan ekspresi serius.
Di sisi lain, seorang pria berjas hitam dengan dasi bermotif dan bros kecil di kerah—yang kemudian disebut sebagai Rico—berdiri diam, wajahnya datar, tetapi matanya yang mengawasi setiap gerak pria berblazer kotak-kotak itu menunjukkan bahwa ia sedang menghitung langkah. Ia belum ikut bicara, ia membiarkan lawannya berbicara, lalu dengan tenang mengeluarkan kartu truf: “Semua tenang dulu. Kasus ini penuh kejanggalan.” Ia tidak membantah, tetapi ia menunda—dengan strategi hukum yang jelas: meminta penyelidikan tingkat tertinggi dan mempertahankan hak terkait pencemaran nama baik. Ini adalah taktik klasik dalam dunia korporat: bukan menyangkal fakta, melainkan mempertanyakan prosedur dan legitimasi tuduhan. Namun, pria berblazer kotak-kotak itu tidak gentar. Ia bahkan berbalik, melangkah keluar dari panggung, lalu berhenti, dan berkata dengan suara cukup keras agar semua mendengar: “Tidak perlu diselidiki lagi! Bukti sudah jelas—Jelas Sistem Medika Link Grup Lugano dikembangkan lebih dulu.” Di sini, ia tidak hanya menyerang produk, tetapi juga mengancam fondasi kepercayaan publik terhadap inovasi Grup Renova.
Konflik memuncak ketika ia menyebut nama “Pak Gavin” sebagai pelaku plagiarisme. Ini adalah momen kritis—menyebut nama individu di depan umum dalam acara resmi merupakan langkah berisiko tinggi, bahkan dapat berujung gugatan fitnah. Namun ia melakukannya dengan percaya diri, bahkan meletakkan tangan di dada sambil berkata: “menodai nama baik perusahaan yang bekerja keras dan fokus pada penelitian.” Kalimat itu bukan hanya pembelaan, tetapi juga penghinaan terselubung terhadap klaim integritas Grup Renova. Ia tidak hanya menyerang sistem, tetapi juga moralitas orang-orang di baliknya. Dan ketika ia menantang: “Ini justru akan semakin memalukan, bukan?”, ia tidak lagi berbicara sebagai pihak yang dirugikan—ia berbicara sebagai hakim yang telah menjatuhkan vonis.
Yang paling menarik adalah reaksi penonton. Seorang wanita muda di meja depan, berpakaian biru muda dengan kerah putih, memegang mikrofon dan bertanya dengan nada tegas: “Bu Wanda, mencuri rahasia bisnis adalah pelanggaran hukum. Mengapa Grup Renova melakukan hal ini?” Pertanyaannya bukan sekadar jurnalisme—ia mewakili suara publik yang mulai ragu. Di sampingnya, seorang wanita lain dengan jaket putih berhias manik-manik mengangguk, lalu berkata pelan: “Tidak menyangka… bisa melakukan hal ini.” Ini adalah detik-detik ketika opini publik mulai bergeser. Acara peluncuran yang seharusnya menjadi momen kebanggaan berubah menjadi ujian kredibilitas—dan tampaknya, Grup Renova sedang kalah dalam ujian tersebut.
Lalu, adegan berubah drastis. Layar biru menghilang, lampu redup, dan kita dipindahkan ke sebuah ruang privat—ruang tamu mewah dengan lukisan tradisional Tiongkok di dinding, rak buku kayu jati, serta lantai keramik berpolanya klasik. Di sini, suasana berbeda: hangat, pribadi, bahkan romantis. Seorang pria berjas cokelat tua dengan dasi merah marun berdiri menunggu. Ia tersenyum lembut saat seorang wanita berbaju putih muda masuk, membawa buket mawar merah yang dibungkus hitam—simbol cinta yang kontras dengan kegelapan kemasannya. Ia menyapa dengan lembut: “Ayah…” dan wanita itu membalas dengan senyum penuh harap. Namun ketegangan tidak hilang sepenuhnya. Ketika ia memberikan bunga, wanita itu mengeluarkan ponsel, lalu wajahnya berubah—matanya melebar, napasnya tersengal. “Ayah, ada masalah di acara peluncuran,” katanya pelan, tetapi suaranya bergetar. Pria itu—yang ternyata adalah ayah dari wanita tersebut—langsung kehilangan senyumnya. Tatapannya menjadi tajam, alisnya berkerut. Ia tidak bertanya “apa masalahnya?”, tetapi langsung memahami: ini bukan masalah kecil. Ini adalah ledakan yang telah ditunggu-tunggu.
Inilah kejeniusan narasi dalam (Dialih suara) Aku Menghukum Perselingkuhan Putriku: konflik bisnis yang tampaknya kering dan teknis ternyata memiliki akar emosional yang dalam. Pelanggaran hak cipta bukan hanya soal uang atau pasar—melainkan soal kepercayaan, harga diri, dan warisan keluarga. Pria berblazer kotak-kotak bukan sekadar pengacara atau kompetitor; ia mungkin adalah mantan anggota tim yang dikhianati, atau bahkan saudara yang diasingkan. Sedangkan wanita di podium bukan hanya CEO—ia adalah anak dari pria yang kini berdiri di ruang tamu, memegang bunga yang belum sempat diberikan. Ketika ia mengatakan “Setelah acara selesai, cari kesempatan dan berikan kepada Bibi Wanda”, itu bukan instruksi biasa—itu adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan hubungan keluarga yang mulai retak karena ambisi bisnis.
Yang membuat adegan ini begitu memukau adalah bagaimana setiap detail digunakan sebagai simbol. Mikrofon ‘ZHUOYUE NEWS’ bukan hanya atribut jurnalis—ia adalah mata publik yang tidak dapat ditutupi. Sabuk Gucci dengan logo ganda bukan sekadar gaya—ia adalah tanda status, kekayaan, dan keberanian untuk tampil berbeda di tengah seragam bisnis yang kaku. Bahkan warna pakaian—krem untuk pihak yang ingin terlihat bersih dan profesional, hitam untuk pihak yang membawa kebenaran gelap yang harus diungkap—semua dipilih dengan sengaja.
Dan di tengah semua ini, (Dialih suara) Aku Menghukum Perselingkuhan Putriku berhasil menciptakan ketegangan yang tidak hanya berasal dari dialog, tetapi dari jeda—dari tatapan yang berlangsung lebih lama dari seharusnya, dari napas yang tertahan, dari tangan yang bergetar saat memegang kertas. Ini bukan drama bisnis biasa. Ini adalah kisah tentang bagaimana kebohongan, meski dibungkus dengan teknologi canggih dan presentasi megah, tetap akan terbongkar—karena kebenaran, seperti mawar merah di balik kertas hitam, selalu menuntut untuk dilihat. Dan ketika saatnya tiba, bukan lagi soal siapa yang lebih kaya atau lebih kuat—tetapi siapa yang berani mengatakan: “Aku menghukum perselingkuhan putriku”, bukan karena dendam, melainkan karena cinta pada keadilan. Karena dalam dunia yang penuh rekayasa, kejujuran adalah senjata paling mematikan—dan paling langka.

