Perincian kalung giok berbentuk bulan sabit di leher bayi itu pasti punya makna penting dalam Peony mekar. Kenapa orang tua asuh dan bayi itu sama-sama memakainya? Apakah ini petunjuk identitas asli si kecil? Penulis skrip pintar sekali menyelipkan benda kecil ini sebagai kunci misteri yang membuat kita ingin tahu setengah mati menunggu kelanjutannya nanti.
Adegan hujan deras ketika bomba menyelamatkan bayi itu sangat sinematik. Kontras antara api yang membara dan air hujan yang mengguyur menambah dramatisasi situasi. Wajah letih namun penuh tekad dari para pahlawan tanpa tanda jasa itu memberikan nuansa realistik. Peony mekar berjaya membangun ketegangan tanpa perlu dialog yang berlebihan di bahagian ini.
Momen ketika ibu kandung yang kotor dan terluka menyerahkan bayi itu kepada ibu angkatnya adalah puncak emosi di Peony mekar. Tatapan penuh keikhlasan bercampur sakit dari si ibu kandung benar-benar menguras air mata. Tidak ada teriakan histeris, hanya keheningan yang menyakitkan. Lakonan para pelakon wanita di sini luar biasa semula jadi dan menyentuh jiwa.
Reaksi anak lelaki itu ketika melihat adiknya benar-benar di luar dugaan. Alih-alih cemburu, dia malah menunjukkan kelembutan yang luar biasa dengan menyentuh wajah si bayi. Adegan penutup di Peony mekar ini memberikan sedikit kehangatan di tengah kisah yang penuh duka. Ekspresi polosnya seolah-olah menjanjikan perlindungan untuk adik barunya itu.
Tulisan 'bersambung' di akhir episod Peony mekar ini benar-benar siksaan manis! Penonton dibuat bertanya-tanya tentang nasib ibu kandung dan masa depan bayi tersebut. Apakah mereka akan bertemu lagi? Bagaimana reaksi keluarga besar nanti? Kejutan plot ini berjaya membuat saya langsung ingin menonton episod berikutnya tanpa boleh tidur nyenyak malam ini.