Meja makan itu penuh dengan hidangan, tetapi sunyi. Pak Cik dan Mak Cik diam, Ben memandang pinggan, Yan menunduk—semua tahu apa yang berlaku, namun tiada seorang pun berani menyebutkannya. Maafkan Saya, Wiraku! adalah permintaan maaf yang belum diucapkan, tetapi sudah terasa di udara. 😔
Yan berdiri di hadapan pintu kayu tua, jarinya menggenggam erat—bukan untuk mengetuk, tetapi menahan diri. Setiap nafasnya berat, bagaikan membawa beban keluarga yang tidak terungkap. Maafkan Saya, Wiraku! bukan sekadar tajuk, tetapi jeritan hati yang dipaksakan senyap. 🌸