Ramlah tidak banyak bercakap, tapi tatapannya pada Luqman penuh makna. Dia tidak perlu berteriak seperti Aini, kerana keberadaannya saja sudah cukup membuat Aini kalah. Dalam Kita Pernah Jadi Sekeluarga, Ramlah mewakili ketenangan yang malah lebih menyakitkan bagi bekas isteri. Diamnya adalah senjata paling tajam.
Dari taman ke jalanan, Aini nekat berlutut memegang papan tanda memohon maaf pada Luqman. Tulisan 'Suami, saya salah' dan janji menunggu di bawah bangunan menunjukkan betapa putus asanya dia. Dalam Kita Pernah Jadi Sekeluarga, adegan ini bukan sekadar dramatis, tapi juga mencerminkan keputusasaan seorang ibu yang ingin menyatukan keluarga lagi.
Luqman memang kelihatan tenang, tapi kata-katanya seperti pisau. 'Saya hanya mencintai Ramlah' dan 'jangan ganggu kehidupan saya' adalah pukulan telak bagi Aini. Dalam Kita Pernah Jadi Sekeluarga, dia tidak memberi ruang harapan, malah saat Aini sudah membaca buku harian dan tahu betapa dicintainya dulu. Kejam tapi realistis.
Aini membawa buku harian biru sebagai bukti dia sudah tahu masa lalu mereka. Tapi bagi Luqman, itu sudah tidak bermakna. Dalam Kita Pernah Jadi Sekeluarga, buku harian itu bukan sekadar barang, tapi simbol kenangan yang kini hanya jadi beban. Aini ingin bangkitkan cinta lama, tapi Luqman sudah tutup buku.
Adegan Aini berlutut di tengah orang ramai yang merakam dengan telefon bimbit menambah dimensi tragis. Dalam Kita Pernah Jadi Sekeluarga, ini bukan lagi urusan peribadi, tapi tontonan umum. Rasa malu, putus asa, dan harapan Aini terpampang jelas di wajahnya sambil menjerit 'saya bersalah'. Drama ini membuat kita ikut sesak nafas.