Pria berjas cokelat berjalan seolah sedang di atas lintasan model, sementara pengawalnya bergerak kaku seperti robot rusak. Wanita berbaju putih berdiri tegak dengan ekspresi 'aku tidak percaya ini terjadi', sementara pria berkumis tersenyum licik seolah sudah menyiapkan skenario. Adegan ruang tamu mewah dengan lampu gantung raksasa jadi latar sempurna untuk drama berlebihan ini. Pengemis Itu Sangat Berkuasa memang tahu cara membuat penonton geleng-geleng tapi tetap penasaran.
Pengawal bertopeng dengan jubah biru emas terlihat seperti peserta kostum peran yang salah masuk set. Pria berjas cokelat dengan rantai leher dan kancing terbuka berusaha tampil garang tapi malah terlihat seperti model iklan parfum murahan. Wanita berbaju putih dengan perhiasan berlebihan seolah ingin membuktikan bahwa 'saya kaya dan saya marah'. Dalam Pengemis Itu Sangat Berkuasa, mode lebih berbicara daripada alur yang sebenarnya.
Dari tatapan kosong pria berkumis hingga senyum tipis pria berjas cokelat yang penuh arti, setiap karakter memainkan ekspresi wajah seperti sedang lomba akting. Wanita berbaju putih dengan alis terangkat dan bibir menggigit menunjukkan kebingungan yang terlalu dramatis. Bahkan pria yang duduk santai sambil mengupas jeruk pun ikut memberi warna pada adegan ini. Pengemis Itu Sangat Berkuasa mengajarkan bahwa dalam drama, wajah adalah senjata utama.
Lantai marmer, sofa beludru, dan meja kayu ukir menciptakan suasana istana, tapi konflik yang terjadi terasa seperti pertengkaran tetangga. Pria berjas cokelat berteriak seolah sedang pidato kampanye, sementara wanita berbaju putih berdiri kaku seperti patung lilin. Pengawal bertopeng hanya jadi hiasan hidup yang tidak jelas fungsinya. Dalam Pengemis Itu Sangat Berkuasa, kemewahan latar justru membuat konflik terasa semakin tidak masuk akal dan menghibur.
Adegan pembuka dengan pintu besar yang terbuka lebar langsung memberi sinyal bahwa sesuatu yang besar akan terjadi. Pria berjas cokelat masuk dengan gaya sok berkuasa, diikuti pengawal bertopeng yang justru terlihat seperti figuran opera. Reaksi kaget wanita berbaju putih dan tatapan sinis pria berkumis menciptakan ketegangan lucu. Dalam Pengemis Itu Sangat Berkuasa, setiap ekspresi wajah seolah berteriak 'ini tidak masuk akal tapi aku suka'.