Dia berkata, 'Aku tidak bermaksud mengabaikanmu', lalu membuka novel. Ironis? Iya. Namun justru di situlah kita melihat konflik terdalam: dia takut menjadi karakter dalam cerita orang lain. Nyalakan Cintaku mempertanyakan siapa yang lebih berani—penulis atau mereka yang hidup tanpa skenario.
Matanya berkaca-kaca, tetapi dia tidak menangis. Kacamata itu bagai perisai—menjaga agar rasa sakitnya tidak terlalu terlihat. Saat dia berkata, 'Kaulah yang membuat keputusan, tapi aku yang disalahkan', kita tahu: ini bukan soal pernikahan, melainkan soal pengakuan. Nyalakan Cintaku menyentuh luka yang tidak berdarah, namun sangat perih.
Dia tersenyum, lalu berkata, 'Kau bukan target pasarku'. Kalimat sederhana yang menghancurkan ilusi bahwa cinta dapat dipasarkan. Nyalakan Cintaku mengingatkan: cinta sejati tidak memerlukan strategi pemasaran, hanya kejujuran yang berani menghadapi ketakutan sendiri. 📖✨
Kau mengabaikanku selama tiga tahun—dan baru sekarang kau berbicara. Di sinilah Nyalakan Cintaku brilian: konflik bukan berasal dari kejadian besar, melainkan dari kesunyian yang terlalu lama. Dia tidak marah, dia lelah. Dan kelelahan itu lebih mematikan daripada kemarahan.
Dia mengatakan novel itu 'lucu dan romantis, juga seksi' sambil tersenyum. Namun matanya serius. Itu bukan ejekan—itu pelindung. Nyalakan Cintaku pandai menyembunyikan luka di balik humor, seperti kita semua yang pura-pura baik-baik saja saat hati sedang hancur.