Pria berbaju hitam itu santai sekali memakan apel di tengah kekacauan. Ekspresinya dingin sementara orang lain panik. Adegan ini menunjukkan siapa yang berkuasa tanpa perlu berteriak. Saya suka kontras antara pakaian modern dan kuno. Rasanya seperti menonton Dewa Pecandu Ponsel yang intens. Siapa sebenarnya dia?
Wanita dengan cadar putih tampak misterius sekali di tengah kerumunan orang kaya. Matanya menunjukkan ketegangan tapi dia tetap diam membisu menunggu momen. Gaun mewahnya kontras dengan situasi genting yang terjadi. Saya penasaran identitas aslinya apakah dia tokoh utama. Penataan cahaya di tangga itu sangat dramatis.
Pria berwajah berdarah itu tersenyum aneh sambil menatap lawan bicaranya dengan ngeri. Dia menghitung sesuatu dengan jarinya satu per satu di udara. Mungkin ancaman atau hitungan mundur sebelum serangan besar. Aktingnya sangat meyakinkan sebagai antagonis gila. Saya tidak sabar melihat pembalasannya.
Latar gedung mewah ini bikin suasana makin tegang dan elegan sekali. Karpet oranye mencolok mata di tengah lantai marmer putih bersih. Semua karakter berpakaian formal kecuali satu orang yang santai. Ini simbol pemberontakan atau kekuatan asli. Detail produksi memang bagus sekali.
Nonton di Dewa Pecandu Ponsel memang selalu bikin ketagihan setiap hari. Kejutan alurnya cepat dan tidak membosankan sama sekali untuk ditonton. Karakter pria makan apel itu jadi favorit saya sejak awal muncul. Dia tidak banyak bicara tapi tatapannya tajam menusuk jiwa. Kualitas gambarnya juga jernih.