Awalnya saya mengira ini cerita sedih tentang kehilangan, ternyata ini adalah rencana balas dendam yang dingin. Wanita yang terluka ternyata masih hidup dan memegang kendali. Perubahan alur cerita dalam Anak Baik ini sangat cerdas dan membuat penonton terus menebak-nebak sampai akhir.
Pemain utama pria menunjukkan rentang emosi yang luar biasa, dari menangis histeris hingga tertawa gila. Adegan di mana dia mengambil jepit rambut dan menciumnya sambil tertawa adalah momen paling ikonik. Kualitas akting dalam Anak Baik ini setara dengan film layar lebar besar.
Pencahayaan malam yang remang-remang dengan efek asap menciptakan atmosfer horor yang kental. Darah yang terlihat nyata menambah intensitas adegan kekerasan. Secara visual, Anak Baik berhasil membangun ketegangan tanpa perlu banyak dialog, semuanya tersampaikan lewat gambar.
Sangat memuaskan melihat wanita yang awalnya terlihat sebagai korban, ternyata adalah dalang di balik semua ini. Dia berjalan dengan tenang di tengah kekacauan, menunjukkan dominasi penuh. Representasi karakter wanita dalam Anak Baik ini sangat segar dan tidak klise.
Adegan terakhir di mana pria itu tergeletak dengan pisau di atas wajahnya adalah penutup yang sempurna untuk kekacauan yang terjadi. Rasa keadilan akhirnya ditegakkan dengan cara yang brutal. Anak Baik meninggalkan kesan mendalam tentang konsekuensi dari pengkhianatan.