Di balik gemerlap lampu ring light dan latar belakang berbentuk quilted berlian yang terlihat mewah, tersembunyi sebuah pertarungan diam-diam yang lebih tajam daripada duel pedang di era kuno—duel live streaming antara dua sosok yang saling mengenal, namun tak pernah benar-benar berada di satu ruang yang sama. Ini bukan sekadar konten hiburan biasa; ini adalah teater emosional yang disutradarai oleh kecemburuan, rasa bersalah, dan keinginan untuk membuktikan sesuatu—bahkan jika itu hanya pada layar ponsel yang dipandang dari jauh. Dalam video ini, kita menyaksikan dua karakter utama yang berada dalam dua dunia berbeda, namun terhubung oleh satu nama: Chofin. Dan di tengah semua itu, muncul frasa yang menggema seperti mantra: (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar—sebuah ironi yang menggigit, sekaligus prediksi tragis yang akhirnya terbukti.
Karakter pertama, seorang wanita dengan rambut panjang berombak, mengenakan atasan off-shoulder berwarna biru muda, duduk di sofa empuk dengan bantal-bantal besar di belakangnya. Di depannya, meja putih minimalis dengan tanaman hias kecil yang tampak segar. Lampu ungu dan biru menyelimuti ruangannya, menciptakan suasana intim, seperti ruang pribadi yang dibuka untuk umum—khas gaya live streaming modern. Ia berbicara dengan ekspresi serius, bahkan sedikit memohon, sambil menempatkan kedua tangan di dada atau merapal doa kecil. Teks yang muncul di layar mengungkapkan bahwa ia sedang membahas ‘Chofin’, bukan lawan tandingnya, melainkan sosok yang telah lama hilang dari dunia siaran langsung—Kak Along. ‘Kayaknya Chofin bukan tandingan Kak Along,’ katanya, lalu melanjutkan dengan nada rendah, ‘Kak Along udah lama di dunia siaran langsung. Dia sangat terkenal.’ Di sini, kita mulai melihat keretakan: bukan persaingan profesional semata, tapi kecemasan akan relevansi, kekhawatiran akan kehilangan tempat di hati penonton. Ia tidak hanya berbicara tentang popularitas, tapi tentang pengakuan—dan itu membuatnya rentan.
Lalu, adegan berganti. Kali ini, kita melihat sosok lain: seorang wanita dengan rambut hitam terikat tinggi, mengenakan blus pink lembut, duduk di meja kayu dengan mug bertuliskan ‘Minnie’ dan patung kelinci putih kecil di sampingnya. Latar belakangnya penuh dengan mainan, boneka, dan dekorasi manis—suasana yang kontras dengan kesan elegan dari karakter pertama. Namun, ekspresinya justru lebih gelisah. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar, tangannya saling menggenggam erat di depan dada. Ia bertanya, ‘Kak Chofin, kamu masih ada?’—pertanyaan yang bukan sekadar cek koneksi, tapi panggilan jiwa. Di sini, kita menyadari: mereka bukan hanya pesaing, mereka adalah teman, sahabat, atau mungkin mantan rekan yang pernah berbagi mimpi di atas panggung virtual yang sama. Ketika ia mengatakan, ‘Hari ini kamu sudah bantu aku banyak,’ kita tahu bahwa Chofin bukan musuh, tapi sosok yang pernah menjadi sandaran. Dan ketika ia menambahkan, ‘Ah, becanda aja… Kira punya sedikit uang… Mungkin sekarang sudah bangkrut… Pasti nyesel tuh,’ kita tersentak. Ini bukan sindiran, ini adalah rasa bersalah yang tersembunyi di balik candaan. Ia tahu bahwa Chofin mungkin sedang berjuang, dan ia sendiri—meski tampak sukses—juga tidak sepenuhnya aman.
Adegan berikutnya membawa kita ke ruang pribadi lain: seorang pria berpakaian hitam, duduk santai di lantai, memegang ponsel dengan ekspresi tenang, bahkan sedikit sinis. Ia berkata, ‘Kalau gak bisa kasih hadiah lagi, juga gak apa-apa.’ Kalimat itu terdengar ringan, tapi berat. Di dunia live streaming, hadiah bukan sekadar simbol apresiasi—mereka adalah oksigen. Tanpa gift, streamer bisa tenggelam. Dan ketika ia menambahkan, ‘Jangan nangis, duel ini belum selesai,’ kita paham: ia bukan penonton biasa. Ia adalah bagian dari cerita ini. Ia mungkin adalah Chofin sendiri—atau seseorang yang sangat dekat dengannya. Ia tahu betapa kerasnya permainan ini, dan ia tidak ingin melihat seseorang menyerah hanya karena kelelahan emosional. Tapi di saat yang sama, ia juga tidak mau terlibat terlalu dalam. Ada jarak yang sengaja ia jaga, seperti orang yang berdiri di tepi kolam, melihat orang lain berenang—tahu cara berenang, tapi memilih untuk tidak ikut basah.
Kembali ke wanita pertama, kali ini dilihat dari sudut kamera yang membingkai wajahnya dalam lingkaran ring light. Ia menatap ponsel di depannya, lalu berkata dengan nada tegas, ‘Kenapa? Kak Chofinmu udah gak kuat? Tadi masih bisa ngomong sombong.’ Di sini, kita melihat perubahan drastis: dari empati menjadi tantangan. Ia tidak lagi memohon, ia mulai menyerang—bukan secara fisik, tapi secara psikologis. Ia menggunakan kata ‘sombong’ sebagai senjata, mencoba menggoyahkan fondasi kepercayaan diri Chofin. Tapi di balik itu, kita bisa merasakan kecemasan yang sama: jika Chofin benar-benar lemah, maka siapa yang akan menjadi lawan sepadan baginya? Siapa yang akan menjaga standar kompetisi agar tetap menarik? Duel ini bukan hanya soal siapa yang menang, tapi siapa yang masih layak berada di atas panggung.
Wanita kedua kembali muncul, kali ini dengan ekspresi yang lebih hancur. ‘Kamu jangan bertele-tele,’ katanya, seolah meminta agar Chofin segera mengambil keputusan. Lalu, ‘Tinggal 10 detik lagi duelnnya selesai.’ Detik-detik terakhir ini bukan hanya batas waktu teknis—ini adalah momen keputusan hidup. Apakah ia akan menyerah? Apakah ia akan memberikan satu gift terakhir sebagai tanda keberadaan? Ataukah ia akan menghilang tanpa jejak, seperti banyak streamer lain yang pernah menghilang begitu saja? Saat ia bertanya, ‘Masih berharap orang itu selametin kamu?’, kita tahu bahwa ia sedang berbicara pada dirinya sendiri sekaligus pada Chofin. Keduanya berada dalam posisi yang sama: menunggu uluran tangan dari orang lain, sambil berusaha menyembunyikan rasa takut akan kehilangan.
Adegan paling mengejutkan datang ketika pria berpakaian hitam itu akhirnya mengirimkan gift—bukan satu, bukan dua, tapi sebuah roket besar yang muncul di layar live stream wanita kedua. Efek visualnya spektakuler: asap putih, api kuning menyala, dan angka ‘100, 200, 300, 400’ muncul satu per satu. Wanita itu terkejut, lalu tertawa lebar, menutupi wajahnya dengan tangan, air mata mengalir. ‘Terima kasih, Kak Chofin!’ katanya berulang kali, suaranya bergetar. Di sini, kita menyadari: Chofin tidak hilang. Ia hanya menunggu momen yang tepat. Ia tidak ingin terlihat lemah, jadi ia diam. Tapi ketika ia akhirnya beraksi, ia melakukannya dengan gaya—seperti roket yang melesat ke langit, meninggalkan jejak api yang tak terlupakan. Dan ketika ia mengetik di ponselnya, ‘Maaf ya… Tadi aku isi saldo… Sistem ini sangat merepotkan… Sekali isi cuma bisa 2 miliar,’ kita tertawa sekaligus terharu. Ini bukan kemewahan, ini adalah pengorbanan. Ia rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar bukan untuk menang, tapi untuk mengatakan: ‘Aku masih di sini. Aku belum menyerah.’
Di akhir, wanita kedua berkata, ‘Makasih, Kak Chofin. Kalau gak aku bakal nari striptis.’ Kalimat itu mengandung dua lapis makna: satu, sebagai candaan untuk melepaskan ketegangan; dua, sebagai pengakuan bahwa tanpa bantuan Chofin, ia mungkin benar-benar akan sampai pada titik itu—melakukan hal ekstrem demi bertahan. Dan ketika ia mengucapkan ‘Terima kasih, Kak Chofin!’ untuk ketiga kalinya, dengan tangan di dada dan mata berkaca-kaca, kita tahu bahwa ini bukan sekadar ucapan terima kasih atas gift—ini adalah pengakuan atas keberadaan, atas solidaritas, atas kepedulian yang tak terucapkan dalam dunia yang sering kali dingin.
Yang paling menarik adalah bagaimana judul (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar ternyata bukan sekadar tagline promosi—ia adalah filosofi tersembunyi dari seluruh narasi ini. Semakin boros Chofin dalam memberi, semakin lancar rezekinya—bukan dalam arti uang kembali, tapi dalam arti pengaruh, kepercayaan, dan kehadiran yang tak tergantikan. Di dunia live streaming, uang bukan satu-satunya modal; keberanian untuk memberi, meski dalam keadaan sulit, justru yang membuat seseorang dikenang. Dan inilah yang membuat Prajurit Cinta dan Bunga Terakhir bukan hanya judul serial, tapi metafora bagi perjuangan mereka yang berada di garis depan hiburan digital: mereka bukan hanya mencari viewers, mereka mencari makna.
Adegan terakhir menampilkan tulisan emas ‘未完待续’—Belum Selesai—di atas wajah wanita yang masih menangis bahagia. Kata-kata itu bukan penutup, tapi undangan. Kita tahu duel ini belum benar-benar usai. Masih ada episode berikutnya, masih ada pertanyaan yang belum terjawab: Apa yang akan dilakukan Chofin setelah ini? Apakah wanita kedua akan bangkit kembali? Dan bagaimana dengan pria berpakaian hitam—apakah ia benar-benar Chofin, atau justru seseorang yang lebih dalam dari itu? Satu hal yang pasti: (Sulih Suara) Semakin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya slogan, tapi prinsip hidup yang ditegakkan di tengah lautan digital yang tak pernah berhenti berputar. Mereka yang berani memberi, meski dalam keadaan goyah, justru yang akan dikenang—bukan karena uangnya, tapi karena hatinya. Dan itulah yang membuat kita, sebagai penonton, tidak hanya menonton, tapi ikut merasakan setiap detak jantung mereka di balik layar.

