(Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar: Siapa yang Benar-Benar Punya Kevin?
2026-02-27  ⦁  By NetShort
https://cover.netshort.com/tos-vod-mya-v-da59d5a2040f5f77/98945788a302471f8ce62a6a33be6ba2~tplv-vod-noop.image
Nonton semua episode gratis di aplikasi NetShort!

Di tengah suasana ruang pameran properti yang terang benderang, dengan jendela kaca besar membiarkan cahaya siang menyelinap masuk seperti penonton diam yang tak ingin melewatkan satu detik pun dari drama yang sedang berlangsung, muncullah sebuah konflik sosial yang bukan hanya tentang cinta—tapi tentang klaim, kekuasaan, dan identitas dalam lingkaran elite. Tidak ada latar musik dramatis, tidak ada slow motion yang dipaksakan; semua terjadi dalam gerak alami, dalam tatapan yang tajam, dalam sentuhan yang terlalu dekat, dan dalam kalimat-kalimat yang keluar seperti peluru dari mulut para perempuan yang tahu betul: di dunia ini, *siapa yang menggenggam lengan Kevin*, dialah yang hari ini menjadi pusat gravitasi.

Awalnya, semuanya tampak ringan. Perempuan dalam gaun biru muda, rambutnya digelung setengah tinggi dengan aksen mutiara di telinga dan leher, tersenyum manis sambil memegang tas kecil berwarna krem. Dia berkata, *“Aku juga mau kasih kamu hadiah”*—kalimat yang seharusnya penuh kehangatan, tapi justru menjadi batu loncatan pertama menuju medan perang tak berdarah. Kevin, dengan jaket bergaris abu-putih yang mencolok seperti lukisan ekspresionis, hanya tersenyum tipis, menanyakan *“Hadiah apa?”*—sebuah pertanyaan yang terdengar polos, namun dalam konteks ini, ia adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam permainan. Dan dia masuk. Dengan santai, tanpa ragu, ia mengatakan *“Mulai sekarang, aku milik Kak Kevin”*. Kalimat itu bukan pengakuan cinta—itu deklarasi kepemilikan. Ia tidak mengatakan *“Aku milikmu”*, tapi *“Aku milik Kak Kevin”*—penekanan pada gelar *Kak*, yang mengisyaratkan hierarki, keakraban yang dipaksakan, dan klaim atas status sosial yang melekat pada nama Kevin.

Lalu datanglah yang kedua: perempuan dalam gaun mini berkilau abu-abu, rambut panjang terurai, tangan kanannya memegang jeruk oranye yang anehnya jadi simbol—bukan buah, tapi senjata diplomatik. Ia langsung menyelonong, memeluk lengan Kevin dari sisi lain, seolah-olah posisi itu sudah menjadi miliknya sejak lama. *“Boleh kamu apain aja sesukamu”*, katanya dengan nada manja yang terlalu dipaksakan, seakan memberi izin kepada Kevin untuk mengabaikan si biru muda. Tapi di balik senyumnya, matanya menyipit—ini bukan kerendahan hati, ini adalah tantangan yang dibungkus gula.

Di sini, (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar mulai menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun ketegangan tanpa teriakan. Setiap gerak tubuh, setiap perubahan ekspresi wajah, bahkan cara mereka memegang tas atau menjaga jarak—semua adalah bahasa tubuh yang terjemahannya jelas: *aku di sini, aku punya dia, dan kau? Kau siapa?*

Maka muncullah pihak ketiga: perempuan dalam jumpsuit pink kotak-kotak, rambut dikuncir tinggi, tangan dilipat di dada, pandangan dingin seperti es yang baru saja dikeluarkan dari freezer. Ia tidak berteriak, tidak mendekat, tapi kehadirannya membuat udara berubah densitas. Saat si biru muda mengulang klaimnya, *“Aku sendiri”*, si pink tidak langsung bereaksi—ia menunggu. Dan saat si abu-abu mulai berusaha merebut perhatian Kevin dengan kata-kata manis, si pink akhirnya berbicara: *“Gak bisa, aku juga suka Kevin”*. Bukan *“Aku cinta Kevin”*, bukan *“Aku pacar Kevin”*—tapi *“Aku juga suka Kevin”*. Sebuah frasa yang sengaja dilemahkan, agar terdengar rendah hati, padahal justru lebih berbahaya: karena “suka” bisa berarti segalanya—dari naksir sampai klaim moral atas masa depan seseorang.

Kemudian datang lagi pihak keempat: perempuan dalam dress putih V-neck, anting emas berbentuk daun, tangan memegang tas hitam kecil, sikapnya tegak, suaranya tenang tapi tegas. Ia tidak ikut berebut lengan Kevin—ia malah menarik lengan si abu-abu, lalu berkata *“Jangan sentuh Kak Kevin”*, lalu melanjutkan *“Aku yang utama”*. Kata *utama*—bukan *pertama*, bukan *paling sayang*, tapi *utama*. Ini adalah klaim struktural, bukan emosional. Ia tidak bersaing dalam cinta, ia bersaing dalam *posisi*. Dan ketika si pink ikut angkat suara *“Dia punyaku”*, si putih langsung memperkuat: *“Kalian jangan bertengkar lagi”*—seakan ia adalah wasit yang sekaligus peserta, yang berhak mengatur jalannya pertandingan karena ia yang menentukan aturan mainnya.

Yang paling menarik adalah bagaimana Kevin sendiri—pusat dari semua kekacauan ini—tidak pernah benar-benar mengambil sikap. Ia tersenyum, mengangguk, kadang menatap satu, lalu beralih ke yang lain, seolah-olah sedang menilai kualitas presentasi mereka. Ia bahkan tidak membantah saat si abu-abu berkata *“Kak Kevin sangat hebat”*, atau saat si putih menyebut *“Adik, Kevin sangat hebat”*. Ia biarkan mereka saling mengklaim, saling mengancam dengan senyum, saling menggenggam lengannya seperti sedang memperebutkan trofi. Dan di titik itulah (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar menunjukkan kejeniusannya: Kevin bukan tokoh utama yang pasif—ia adalah *medan pertempuran itu sendiri*. Tubuhnya adalah arena, lengan kirinya adalah wilayah si biru muda, lengan kanannya adalah wilayah si abu-abu, dan ruang di antara mereka adalah tempat si pink dan si putih berusaha memasang bendera klaim mereka.

Ketika si abu-abu mulai berbisik *“Kamu nikmati sendiri, tahan gak?”*, itu bukan ajakan bercanda—itu ujian loyalitas. Apakah Kevin akan tertawa dan mengiyakan, ataukah ia akan menegur? Ia tidak melakukan keduanya. Ia hanya menatapnya, lalu berpaling ke si biru muda yang wajahnya mulai berubah dari manis menjadi cemas. Dan di saat itulah, si pink mengeluarkan kartu truf terakhir: *“Bodoh amat, Kevin hari ini hanya milikku”*. Bukan dengan suara keras, tapi dengan nada yang datar, yakin, seperti orang yang sudah memeriksa dokumen hukum dan tahu bahwa namanya tercantum sebagai penerima hak utama.

Lalu datanglah momen puncak: kelima orang berdiri mengelilingi maket perumahan di meja kaca, Kevin berada di tengah, tangan kiri di bahu si pink, tangan kanan di bahu si abu-abu, si biru muda berdiri di sisi kiri depan, si putih di sisi kanan belakang—mereka semua menatap maket itu, tapi mata mereka tidak fokus pada gedung atau taman. Mereka saling mengintai lewat pantulan kaca. Dan ketika Kevin akhirnya berkata *“Aku gak pilih”*, lalu melanjutkan *“Aku mau semuanya”*, seluruh ruangan seolah berhenti bernapas. Bukan karena kejutan—tapi karena *akhirnya*, klaim terbesar telah diucapkan. Bukan “aku cinta kalian”, bukan “aku bingung”, tapi *“aku mau semuanya”*. Sebuah pernyataan yang tidak romantis, tidak moral, tapi sangat realistis dalam logika dunia yang mereka huni: di mana kekayaan, status, dan kekuasaan bukan untuk dibagi—tapi untuk dikumpulkan.

Di sinilah kita melihat betapa dalamnya (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar mampu menggali psikologi kelompok elit urban. Mereka bukan sekadar “cemburu” atau “berebut pacar”—mereka sedang memperebutkan *akses*, *validasi*, dan *warisan sosial*. Si biru muda mewakili generasi muda yang masih percaya pada narasi cinta personal; si abu-abu adalah representasi dari keberanian sensual yang dipakai sebagai alat negosiasi; si pink adalah kekuatan tradisional yang mengandalkan klaim historis dan struktur keluarga; si putih adalah modernitas yang berpura-pura netral, padahal justru paling strategis dalam memanfaatkan chaos.

Dan Kevin? Kevin adalah simbol—bukan manusia. Ia adalah proyeksi dari apa yang mereka inginkan: kekuatan finansial, jaringan sosial, keamanan masa depan. Jeruk oranye yang dipegang si abu-abu bukan sekadar prop—ia adalah metafora: sesuatu yang segar, menarik, tapi mudah membusuk jika tidak segera diklaim. Sementara tas krem si biru muda, tas hitam si putih, dan tas cokelat si pink—semuanya adalah armor, identitas yang dipakai untuk berperang tanpa harus mengeluarkan darah.

Yang paling mengena adalah saat si putih berkata *“Aku takut dia sentuh kamu, kamu gak kuat”*—bukan karena khawatir Kevin akan disakiti, tapi karena khawatir *Kevin akan jatuh ke tangan yang salah*. Ini bukan cinta, ini adalah manajemen risiko. Dan ketika si pink menjawab *“Tentu aja bisa”*, ia tidak merujuk pada kemampuan Kevin—ia merujuk pada *kekuatannya sendiri* untuk menjaga klaimnya tetap utuh.

Di akhir adegan, ketika tulisan emas *“未完待续”* muncul di layar, disertai kata *Bersambung*, kita tidak merasa penasaran karena ingin tahu siapa yang menang—tapi karena ingin tahu: apakah Kevin benar-benar bisa memiliki semuanya? Atau akankah sistem ini akhirnya runtuh karena beban klaim yang terlalu banyak? Karena dalam dunia seperti ini, *memiliki semuanya* sering kali berarti *kehilangan segalanya*—dan (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar tahu betul bahwa konflik sejati bukan terjadi saat mereka berebut, tapi saat mereka mulai percaya bahwa mereka *sudah menang*.

Adegan ini bukan hanya tentang lima orang di ruang pameran—ini adalah cermin dari dinamika kekuasaan yang terjadi di kantor, di acara gala dinner, di grup WhatsApp keluarga besar, di mana nama “Kevin” bisa diganti dengan siapa saja yang dianggap punya *rejeki lancar*, dan “boros” bukan soal uang, tapi soal energi emosional yang dikorbankan demi mempertahankan ilusi kontrol. Maka, ketika mereka semua berdiri mengelilingi maket rumah—simbol stabilitas, keamanan, masa depan—yang sebenarnya mereka rebutkan bukan lokasi properti itu, tapi *hak untuk menentukan siapa yang layak tinggal di dalamnya*.

Dan inilah mengapa (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar berhasil membuat penonton tidak hanya menonton, tapi ikut berdebar, ikut menghitung langkah, ikut merasa: *jika aku di sana, aku akan memilih sisi mana?* Tidak ada jawaban yang benar. Hanya ada pilihan yang paling tahan banting—dan dalam dunia ini, yang paling tahan banting bukan yang paling jujur, tapi yang paling mahir bermain di antara garis-garis abu-abu yang disebut *etika*, *cinta*, dan *hak*.

Anda Mungkin Suka