(Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar: Pertunjukan Drama Keluarga di Meja Makan yang Bikin Geleng-Geleng
2026-02-27  ⦁  By NetShort
https://cover.netshort.com/tos-vod-mya-v-da59d5a2040f5f77/566996387bc74c49a6ba4e9ab5e23cf3~tplv-vod-noop.image
Nonton semua episode gratis di aplikasi NetShort!

Di tengah ruang makan mewah berlantai marmer dan lampu kristal emas yang menggantung seperti mahkota kerajaan, sebuah pertemuan keluarga—atau lebih tepatnya, *pertunjukan kekuasaan sosial*—sedang berlangsung. Tidak ada piring nasi hangat atau canda tawa ringan di sini; yang terjadi justru adalah duel verbal yang diselimuti senyum palsu, tatapan tajam yang menyiratkan dendam lama, dan gerakan tubuh yang lebih berbicara daripada kata-kata. Ini bukan sekadar makan malam, ini adalah *The Royal Duke*, sebuah serial yang memang sengaja dirancang untuk membuat penonton merasa seperti tamu tak diundang di balik tirai sutra—menyaksikan segalanya, tapi tidak boleh bersuara.

Pusat perhatian jatuh pada dua figur utama: Sadam, pria berjas cokelat kaya dengan bros kerah berlian, dan Kevin, sang pria berjas abu-abu yang tampaknya baru saja keluar dari mimpi buruk. Kevin membuka adegan dengan gestur dramatis—tangan mengacung, mata melebar, suara bergetar—seolah-olah ia sedang menghadapi musuh bebuyutan, bukan sekadar rekan bisnis yang datang terlambat. Kalimat pertamanya, *“Aku akan menggaulimu di depan pecundang ini”*, bukan hanya provokasi, tapi juga pengumuman perang. Ia tidak bicara kepada Sadam; ia bicara kepada seluruh ruangan, menuntut pengakuan, menuntut rasa hormat, menuntut bahwa ia *masih ada*. Dan ketika ia jatuh terduduk, ditarik oleh dua orang pria lain yang tampaknya setia padanya, itu bukan kelemahan—itu teater. Ia ingin semua melihat betapa ia *diperlakukan* secara tidak adil, agar simpati mengalir deras ke arahnya. (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar—begitu ironisnya, karena keborosan Kevin bukan soal uang, tapi soal *ego* yang terlalu besar untuk dimuat dalam satu ruang makan.

Sadam, di sisi lain, adalah karya seni diam. Ia tidak berteriak. Ia tidak berlari. Ia hanya berdiri, tegak, dengan postur yang seolah-olah telah menghabiskan puluhan tahun belajar bagaimana menjadi batu di tengah badai. Ketika Kevin menuduhnya “berani memukul aku”, Sadam tidak membantah. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, *“Sudah kutampar, masih saja sombong”*. Kalimat itu bukan pengakuan, tapi penghinaan halus yang disampaikan dengan nada santai—seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan secangkir teh sambil menonton anjing peliharaannya menggonggong pada bayangannya sendiri. Sadam tahu persis bahwa Kevin sedang mencoba membangun narasi dirinya sebagai korban, dan ia membiarkannya—karena ia tahu, di akhir hari, *fakta* akan berbicara lebih keras daripada drama. Dalam dunia The Royal Duke, kekuasaan bukan milik yang paling keras berteriak, tapi yang paling tenang saat semua orang mulai panik.

Lalu muncul Bu Aning, wanita berbaju kuning lembut dengan kalung bunga emas yang mencolok—sebagai simbol status, bukan selera. Ia duduk di meja, di antara piring-piring hidangan yang disusun seperti lukisan modern, dan tiba-tiba bangkit dengan gerakan yang terlalu cepat untuk seorang wanita yang seharusnya ‘diam’. *“Kevin, kamu benaran gila! Berani memukul Sadam!”*—ia menunjuk, jari telunjuknya seperti pedang kecil yang siap menusuk. Tapi lihatlah matanya: tidak ada kemarahan murni. Ada kebingungan, ada kekhawatiran, dan di balik itu semua, ada *keingintahuan*. Ia bukan sekadar istri atau saudara; ia adalah *penjaga narasi*. Ia tahu bahwa jika Kevin terus menggeledah masa lalu, maka semua rahasia yang telah dikubur selama bertahun-tahun akan muncul ke permukaan. Dan ketika ia berkata, *“Kamu belum tahu… Hubungan Sadam baik banget sama Bu Aning”*, itu bukan pembelaan—itu peringatan. Ia sedang memberi Kevin satu kesempatan terakhir untuk berhenti sebelum semuanya hancur. (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar—karena keborosan di sini bukan soal pembelian barang mewah, tapi soal *membuang kesempatan* untuk diam, untuk mengerti, untuk *tidak bermain api*.

Adegan berikutnya adalah klimaks yang disengaja: seorang pelayan muda membawa botol anggur berlabel *Château Belongue*, diletakkan di atas kain ungu yang dilipat rapi. Botol itu bukan sekadar minuman—ia adalah *simbol*. Anggur langka, koleksi terbaik, hadiah dari seseorang yang ingin menunjukkan bahwa ia *tahu nilai* dari apa yang ia berikan. Namun, ketika pria berjas hitam—yang tampaknya menjadi ‘juru damai’ atau mungkin sekadar pengkhianat berwajah manis—mengambil botol itu dan berkata, *“Wine ini koleksi terbaik dan langka… Sepertinya hubungan Sadam dan Bu Aning sangat luar biasa”*, ia tidak sedang memuji. Ia sedang meletakkan bom waktu di tengah meja. Karena semua orang tahu: jika anggur ini benar-benar dari Bu Aning, maka mengapa ia tidak menyebutkan asal-usulnya? Mengapa harus ada pihak ketiga yang menjelaskan? Di sinilah konflik mulai berubah dari verbal menjadi *strategis*. Setiap gerak tubuh, setiap tatapan ke arah botol, setiap napas yang tertahan—semua adalah bagian dari permainan catur yang tidak terlihat.

Kevin, yang sebelumnya tampak seperti pahlawan tragis, kini mulai kehilangan kendali. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu ke takut—dan akhirnya, ke pasrah. Saat ia berkata, *“Meski aku dan Aning pernah ketemu… tapi hubungan kami gak sedekat ini”*, ia tidak lagi berbohong. Ia sedang *mengoreksi narasi* yang telah dibangunnya sendiri. Ia menyadari bahwa ia bukan tokoh utama dalam cerita ini; ia hanya karakter pendukung yang terlalu percaya diri. Dan ketika ia mengatakan, *“Kalau nanti ada yang bisa kubantu, akan kubantu semampuku”*, itu bukan janji—itu pengakuan kekalahan. Ia menyerah, bukan karena kalah dalam pertarungan fisik, tapi karena kalah dalam *permainan makna*.

Yang paling menarik adalah bagaimana ruang makan itu sendiri menjadi karakter. Dinding berlukisan burung terbang, tirai biru tua yang berayun pelan, meja bundar besar yang mengelilingi semua orang seperti arena gladiator—semua itu bukan latar belakang, tapi *partisipan aktif*. Setiap kali seseorang berbicara, kamera bergerak perlahan, menyorot wajah-wajah yang berubah ekspresi: wanita berbaju merah yang berdiri diam dengan tangan saling menggenggam, seolah sedang menghitung detak jantungnya; wanita berbaju putih berkilau yang berdiri di samping Sadam, tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya menyimpan ribuan kalimat yang tak terucap; bahkan pelayan yang membawa anggur—ia tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Inilah kehebatan The Royal Duke: ia tidak butuh adegan kejar-kejaran atau ledakan untuk membuat penonton tegang. Cukup satu botol anggur, satu tatapan, dan satu kalimat yang diucapkan dengan nada salah—dan seluruh dunia bisa runtuh.

Di akhir adegan, Kevin berdiri sendiri di tengah ruangan, kepala tertunduk, sementara yang lain mulai bergerak—menuju kursi, menuju meja, menuju *hidup mereka yang normal*. Tidak ada pemenang yang jelas. Tidak ada keadilan yang ditegakkan. Hanya ada *keseimbangan baru* yang rapuh, yang bisa hancur dalam satu kata salah. Dan di sudut layar, muncul kalimat terakhir Kevin: *“Hari ini aku pasti lumpuhkan kamu… Siapa pun yang gak bisa menghentikanku!”*—tapi kali ini, suaranya tidak yakin. Matanya tidak menatap Sadam lagi. Ia menatap lantai, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri, pada bayangannya yang mulai pudar.

(Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya judul lagu atau tagline promosi—ini adalah filosofi tersembunyi dari seluruh serial ini. Karakter-karakter di sini boros dengan emosi, boros dengan kata-kata, boros dengan kepercayaan diri yang tidak berdasar. Tapi justru karena keborosan itulah, rezeki mereka—dalam bentuk kekuasaan, pengaruh, atau bahkan sekadar *bertahan*—malah lancar. Karena di dunia nyata, bukan yang paling hemat yang menang, tapi yang paling berani *memainkan peran* dengan sempurna. Kevin mungkin kalah hari ini, tapi besok? Besok ia bisa muncul dengan skenario baru, dengan alibi yang lebih rumit, dengan *boros* yang lebih elegan. Dan kita, sebagai penonton, hanya bisa duduk di kursi, memegang gelas anggur kita sendiri, dan bertanya: siapa sebenarnya yang sedang dipertontonkan—mereka, atau kita?

Jangan salah sangka: ini bukan cerita tentang cinta atau dendam. Ini adalah cerita tentang *posisi*. Tentang bagaimana seseorang membangun identitasnya bukan dari apa yang ia lakukan, tapi dari apa yang *dikatakan orang lain tentangnya*. Kevin ingin dianggap kuat, jadi ia berteriak. Sadam tidak perlu berteriak—ia cukup hadir, dan semua orang tahu siapa dia. Bu Aning ingin dianggap bijak, jadi ia berbicara dengan nada rendah, tapi tajam. Dan pria berjas hitam? Ia ingin dianggap netral—padahal ia adalah yang paling bermain di balik layar. Inilah keindahan dari The Royal Duke: tidak ada pahlawan, tidak ada penjahat. Hanya manusia, yang berusaha keras untuk tidak tenggelam dalam lautan ekspektasi yang mereka sendiri ciptakan.

Dan ketika kamera perlahan zoom out, menunjukkan seluruh ruangan—meja yang masih penuh makanan, anggur yang belum dibuka, wajah-wajah yang sudah mulai tersenyum lagi—kita menyadari satu hal: pertunjukan belum selesai. Ini hanya intermisinya. Di luar pintu, di koridor yang sunyi, seseorang sedang merekam semuanya dengan ponsel. Karena di era ini, *semua drama adalah konten*, dan konten, pada akhirnya, adalah satu-satunya mata uang yang benar-benar berharga. (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar—karena semakin banyak yang kau buang, semakin banyak yang akan kau dapat… asalkan kau tahu kapan harus berhenti, dan kapan harus berpura-pura.

Anda Mungkin Suka