(Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar: Ketika Cinta Menjadi Senjata dalam Perang Keluarga
2026-02-27  ⦁  By NetShort
https://cover.netshort.com/tos-vod-mya-v-da59d5a2040f5f77/d1355d0977d94812b945d594e5792196~tplv-vod-noop.image
Nonton semua episode gratis di aplikasi NetShort!

Di ruang tamu yang terang namun dipenuhi ketegangan, sebuah drama keluarga meletus bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan yang lebih mematikan daripada pisau. Adegan pembuka menampilkan seorang pria berjas cokelat muda—yang kemudian diketahui bernama Yoga—berlari mendekati seorang wanita yang duduk lemah di sofa, lalu dengan gerakan cepat dan penuh kepastian, ia melepas jasnya dan mengenakannya pada tubuh wanita yang hanya tertutup gaun putih tipis. Gerakan itu bukan sekadar perlindungan fisik; itu adalah klaim—klaim atas tubuh, atas identitas, atas masa depan. Saat ia membungkuk dan memegang wajah sang wanita dengan kedua tangan, matanya tidak berkedip—seolah sedang memprogram ulang realitas di sekitarnya. Di latar belakang, dua sosok berdiri diam: seorang pria paruh baya dengan rambut acak-acakan dan ekspresi kaget yang nyaris komikal, serta seorang pria muda berpakaian hitam, berdiri seperti bayangan—tidak berbicara, hanya mengawasi. Mereka bukan penonton. Mereka adalah pelaksana.

Lalu muncul teks holografik yang membuat kita tersenyum sinis: “Poin cinta Cahya +10”, “Poin cinta saat ini 80”. Ini bukan adegan dari film romantis biasa. Ini adalah *The Love System*, sebuah serial yang memadukan unsur fantasi teknologi dengan konflik keluarga yang sangat manusiawi. Dalam dunia ini, cinta dapat diukur, ditransfer, bahkan diperdagangkan—dan Yoga, dengan senyum dinginnya, tampaknya telah menguasai sistem tersebut sepenuhnya. Ia tidak perlu berteriak untuk menang. Cukup menyentuh pipi Cahya, lalu berkata pelan: “Aku tahu kamu akan selamatkan aku.” Kalimat itu bukan permohonan. Itu adalah pernyataan fakta. Dan Cahya, yang sebelumnya menangis histeris, justru berhenti, menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh keraguan—bukan karena ragu pada janjinya, melainkan karena ragu pada dirinya sendiri. Apakah ia masih memiliki kehendak bebas? Atau sudah sepenuhnya menjadi bagian dari *quest* Yoga?

Di sini, (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar mulai menunjukkan kejeniusannya dalam menyajikan ironi sosial. Yoga tidak pernah mengancam secara langsung. Ia hanya mengingatkan: “Tidak ada yang bisa ganggu kamu lagi.” Kalimat yang terdengar seperti pelindung, namun dalam konteks ini justru menyerupai pengunci pintu kamar. Sementara itu, pria paruh baya—yang kemudian disebut Ayah Cahya—mulai berteriak, “Kamu siapa? Berani pukul aku?” Namun suaranya tidak penuh amarah. Ada nada kebingungan, kehilangan kendali, bahkan… ketakutan. Ia bukan tokoh jahat yang sadis; ia adalah ayah yang terjebak dalam sistem nilai yang sudah usang, sementara anak perempuannya direbut oleh logika baru yang lebih efisien, lebih dingin, dan lebih berkuasa.

Yang paling menarik adalah peran sang ibu—wanita berbaju kotak-kotak kuning yang terus memeluk Cahya, menenangkannya dengan bisikan: “Lebih tepatnya, dia barangku.” Kalimat itu mengguncang. Bukan karena kekejaman, melainkan karena kejujuran brutalnya. Ia tidak menyangkal bahwa Cahya adalah aset. Ia hanya mengklaim hak prioritas atas aset itu. Dalam budaya tertentu, anak perempuan memang sering dipandang sebagai investasi—untuk dijodohkan, untuk menyelesaikan utang keluarga, atau untuk memperkuat aliansi. Dan ketika Yoga muncul dengan janji “Dia akan lakukan apa pun”, bukan hanya Cahya yang tergoda, tetapi juga ibunya. Karena dalam logika keluarga yang rapuh, cinta bukanlah hadiah—ia adalah transaksi yang harus diseimbangkan.

Adegan berikutnya merupakan puncak semua ketegangan: Ayah Cahya, dengan wajah pucat, mengeluarkan ultimatum: “Aku beri kamu dua pilihan. Kuambil ginjalmu… atau serahkan putrimu padaku.” Di sini, kita menyaksikan betapa dalamnya jurang antar-generasi. Bagi Ayah, tubuh anak adalah milik keluarga—boleh dikorbankan demi kelangsungan garis keturunan atau pembayaran utang. Bagi Yoga, tubuh Cahya adalah *aset* yang harus dilindungi, bukan karena cinta murni, melainkan karena nilai strategisnya dalam sistem yang ia kuasai. Ia bahkan tidak marah. Ia hanya menatap Ayah dengan ekspresi campuran belas kasihan dan kejijikan, lalu berkata: “Beraninya kamu usik wanitaku.” Kata “wanita” di sini bukan bentuk keintiman—ia adalah label kepemilikan, seperti “milikku” dalam game RPG.

Lalu datang momen paling absurd sekaligus paling menyakitkan: Ayah Cahya bertanya, “Apa pantas kamu jadi ayah?” Dan Yoga menjawab dengan tenang, “Bukan urusanku.” Jawaban itu bukan kekejaman—itu kebebasan mutlak. Ia tidak perlu menjadi ayah yang baik. Ia hanya perlu menjadi pemenang. Dan dalam dunia *The Love System*, pemenang adalah mereka yang paling mampu mengendalikan narasi, bukan yang paling berhati mulia.

Di sudut ruangan, Cahya duduk terdiam, jas Yoga masih melingkupi tubuhnya seperti perisai sekaligus kandang. Ia menatap tangan ibunya yang menggenggam erat tangannya, lalu ke arah Yoga yang berdiri tegak, lalu ke arah Ayah yang mulai gemetar. Di matanya, kita tidak melihat cinta, bukan pula kebencian—melainkan kebingungan yang dalam. Apakah ia ingin diselamatkan? Ataukah ia ingin memilih sendiri? Pertanyaan itu tidak dijawab. Karena dalam sistem ini, pilihan bukan diberikan—ia dibeli. Dan Yoga, dengan poin cintanya yang mencapai 80, jelas telah membayar harga tertinggi.

Adegan terakhir adalah klimaks yang memilukan: Ayah Cahya dipaksa menempel di dinding, dua orang pria berpakaian hitam mengarahkan pisau ke lehernya, sementara Cahya berteriak, “Jangan! Aku ini ayahmu!” Tapi Yoga tidak berkedip. Ia hanya berkata, “Kamu gak nolong aku… aku bisa mati.” Kalimat itu bukan ancaman. Itu adalah pengakuan kelemahan—dan justru karena itulah ia terlihat lebih berkuasa. Ia mengakui bahwa ia rentan, namun juga mengingatkan bahwa dalam pertukaran ini, Ayah Cahya adalah pihak yang kalah. Karena di dunia di mana cinta bisa dihitung, mereka yang tidak punya poin, tidak punya suara.

Di sinilah (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar benar-benar menunjukkan kepiawaiannya dalam menyajikan kritik sosial tanpa menggurui. Serial ini tidak mengatakan bahwa uang atau kekuasaan itu jahat. Ia hanya menunjukkan bagaimana manusia, ketika dihadapkan pada tekanan ekonomi, hierarki keluarga, dan keinginan untuk bertahan hidup, akan dengan mudah mengorbankan nilai-nilai yang selama ini dianggap sakral—seperti ikatan darah, kebebasan individu, bahkan martabat diri. Yoga bukan villain. Ia adalah hasil dari sistem yang rusak. Dan Cahya? Ia bukan korban pasif. Ia adalah karakter yang sedang berjuang mencari titik di mana ia bisa bernapas—di antara jas yang melindunginya dan tangan yang menggenggamnya terlalu erat.

Yang paling menghantui bukan adegan pisau atau teriakan, melainkan keheningan Cahya saat Yoga menyentuh pipinya untuk ketiga kalinya. Di mata itu, kita melihat refleksi dari semua konflik: rasa bersalah karena tidak melawan, harapan karena mungkin ini memang jalan keluar, dan ketakutan karena ia tahu—jika ia memilih Yoga, ia harus meninggalkan dirinya yang dulu. Dan dalam sistem yang menghitung cinta seperti poin game, apakah ada tempat untuk keraguan? Apakah ada ruang untuk “mungkin”?

Serial ini berhasil membuat kita tidak bisa berhenti menonton, bukan karena aksinya yang bombastis, melainkan karena setiap dialog, setiap tatapan, setiap gerakan tangan—semuanya adalah petunjuk tentang bagaimana kita sendiri, dalam kehidupan nyata, sering kali bermain dalam sistem yang sama: sistem di mana cinta dikuantifikasi, kesetiaan diukur dengan pengorbanan, dan kebebasan dibarter dengan keamanan. (Sulih Suara) Makin Boros, Rezeki Malah Lancar bukan hanya hiburan—ia adalah cermin yang tidak boleh kita hindari. Dan ketika layar gelap, satu pertanyaan tetap menggantung: jika kamu berada di posisi Cahya, apa yang akan kamu pilih? Ginjalmu… atau kebebasanmu? Karena dalam dunia ini, kadang, pilihan terburuk justru terasa seperti satu-satunya jalan keluar. Dan itulah yang membuat kita semua—penonton, pengkritik, bahkan pembuatnya—tidak bisa berhenti berpikir. Karena di balik setiap poin cinta yang naik, ada manusia yang tengah kehilangan dirinya, perlahan, tanpa suara.

Anda Mungkin Suka