Pemandangan pesawat raksasa mendarat dengan tenang di landasan, lampu sorot menyilaukan di bawah langit senja yang berwarna keemasan—sebuah pembukaan yang terasa seperti adegan film bisnis kelas atas. Namun, jangan tertipu oleh keindahan visual itu. Di balik layar, terdapat kisah keluarga yang sedang berantakan, dan semuanya dimulai dari satu telepon yang seharusnya tidak diangkat.
Hadi, Direktur Grup Renova, tiba di bandara dengan aura kekuasaan yang tak perlu dinyatakan. Ia bukan hanya pulang dari luar negeri; ia pulang sebagai pemenang—seorang eksekutif yang telah menaklukkan pasar internasional, membawa nama perusahaannya ke posisi pertama di Kota Sentra. Para staf berbaris rapi, membungkuk dalam hormat yang hampir sakral. ‘Selamat datang kembali, Ketua,’ kata mereka, suara serentak seperti korps militer. Namun, mata Hadi tidak menatap siapa pun. Ia melangkah dengan mantap, jaket hitamnya berkibar pelan, sementara asistennya, Andy, berjalan di belakang dengan ekspresi waspada. Mereka menuju dealer mobil terbesar di kota—bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk sesuatu yang lebih pribadi: hadiah bagi putrinya.
Di kantor CEO Grup Renova, suasana sama sekali berbeda. Di meja kerja yang elegan, terdapat foto pernikahan dalam bingkai emas—Vania dan Rico, tersenyum lebar, latar belakang putih bersih, simbol kesucian dan janji abadi. Namun, di depan foto itu, Vania dan Rico sedang berpelukan erat, tubuh mereka saling menempel, napas beradu. Rico, dengan jas marun dan kemeja bermotif bunga yang mencolok, memegang wajah Vania dengan lembut. ‘Aku yang melayanimu dengan baik?’ tanyanya, suaranya bergetar antara cinta dan kecemasan. Vania, mengenakan gaun sutra krem dan kalung mutiara, tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia menyentuh lengannya sendiri, lalu menatap Rico dengan tatapan penuh makna: ‘Gavin yang melayanimu dengan baik?’
Detik itu, telepon berdering. Layar menunjukkan nama ‘Ayah’. Vania membeku. Wajahnya berubah dalam sepersekian detik—dari kehangatan menjadi kepanikan yang tersembunyi. Rico menyadari sesuatu, tangannya berhenti di pinggang Vania. Ia tidak menghalangi, tetapi juga tidak melepaskan. Vania mengangkat telepon, suaranya berusaha tetap tenang: ‘Halo, Ayah.’
Di dealer mobil, Hadi berdiri di depan sebuah Ferrari merah yang mengkilap, catnya mencerminkan cahaya studio seperti darah segar. Ia tersenyum puas. ‘Aku ingin melihat mobil ini,’ katanya pada sales yang berdiri tegak di sampingnya. Namun, saat telepon berdering, senyum itu lenyap. Ia mengangkat ponsel, dan wajahnya berubah menjadi batu. ‘Bahkah gak pernah ketemu dia?’ tanyanya, suaranya rendah, dingin, seperti pisau yang ditarik dari sarungnya perlahan. Di ujung lain, Vania menjawab dengan suara gemetar: ‘Gavin selalu dinas ke luar kota.’
Dan di sinilah kita melihat kebohongan yang mulai retak. Hadi tidak percaya. Bukan karena ia bodoh—ia terlalu pintar untuk itu—melainkan karena ia tahu cara kerja anaknya. Vania bukan tipe yang akan membiarkan suaminya bekerja terus-menerus tanpa kunjungan. Apalagi jika itu adalah Gavin, sang *putra kandung* yang selama ini dianggap sebagai penerus utama Grup Renova. Namun, Hadi diam. Ia tidak menuduh. Ia hanya mengatakan: ‘Kalau kamu berani lagi bicara lagu, keluar dari keluarga Seyna!’
Kata-kata itu mengguncang Vania. Ia menutup telepon, napasnya tersengal. Rico mendekat, tangannya memegang lengannya. ‘Vania…’ katanya pelan. ‘Gavin ini sebenarnya gimana? Hasut Pak Hadi?’ Pertanyaan itu bukan sekadar rasa penasaran—itu adalah permintaan izin. Izin untuk percaya bahwa apa yang mereka lakukan bukan pengkhianatan, melainkan *kebutuhan*. Vania menatap Rico, lalu menghela napas panjang. ‘Bahkah lebih baik terhadapnya daripada terhadap putri kandungnya,’ katanya, suaranya tegas, tetapi matanya berkaca-kaca.
Ini bukan soal cinta atau nafsu semata. Ini soal *keadilan*. Vania tahu bahwa ayahnya tidak pernah benar-benar menerima Rico. Bukan karena Rico miskin atau tidak berpendidikan—Rico lulusan universitas ternama, punya jaringan bisnis sendiri—melainkan karena Rico bukan darah dagingnya. Sedangkan Gavin? Gavin adalah anak dari istri pertama Hadi, seorang wanita yang meninggal saat melahirkan. Gavin dibesarkan oleh Hadi dengan kasih sayang yang berlebihan, dipuja, dilindungi, dan dijadikan pusat perhatian. Vania, meski anak kandung, selalu berada di bayang-bayangnya. Dan kini, ketika Hadi kembali dengan rencana besar—membeli mobil edisi terbatas sebagai hadiah untuk ‘putri terbaiknya’—Vania sadar: ia tidak akan pernah cukup baik. Tidak selama Gavin masih ada.
Maka, ketika Rico bertanya, ‘Kapan kita bisa bersatu?’ Vania menjawab dengan keberanian yang baru: ‘Asal bisa bersamamu, walau kehilangan semua harta, aku akan siapkan hadiah yang pantas.’ Dan di sinilah (Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku mulai menunjukkan inti konfliknya: bukan tentang perselingkuhan, melainkan tentang *penolakan terhadap warisan emosional yang tidak adil*. Vania tidak ingin merebut suami orang. Ia ingin merebut haknya sebagai anak—sebagai manusia yang layak dicintai tanpa syarat.
Di dealer mobil, Hadi duduk di kursi pengemudi Ferrari. Ia menyentuh kemudi, merasakan tekstur kulit dan logam yang sempurna. ‘Mobil ini memiliki performa bagus,’ katanya pada dirinya sendiri. Lalu, dengan nada ringan: ‘Cocok untuk Gavin.’ Sales tersenyum lebar, mengulurkan kartu kredit. Namun, sebelum Hadi menerima, pintu mobil terbuka. Rico muncul, wajahnya penuh keyakinan, tangan kanannya menggenggam kartu hitam yang mengkilap. ‘Mobil ini aku beli,’ katanya, suaranya jelas, tanpa ragu.
Hadi menatapnya. Tidak marah. Tidak heran. Hanya… tertawa pelan. ‘Kalau belum dipesan, mobil ini gak bisa kamu beli.’
Rico tidak mundur. Ia maju selangkah, lalu menatap Hadi dengan mata yang tidak takut. ‘Aku bakal tunjukkan kehebatanku padamu yang hanya pantas datang untuk uji coba mobil.’ Kata-kata itu bukan tantangan—itu adalah *pengakuan*. Pengakuan bahwa ia tidak lagi ingin menjadi bayangan. Ia ingin menjadi lawan yang setara. Dan di saat itulah, Vania masuk, tangannya menggenggam lengan Rico. ‘Sayang, kamu sangat baik padaku,’ katanya, suaranya lembut tetapi penuh kekuatan. ‘Setelah dapat perhatian Pak Hadi, menyingkirkan Gavin yang menyebalkan—gak hanya bisa selamatkan grupku, mungkin juga jadi milik aku.’
Kalimat terakhir itu adalah bom waktu. ‘Milik aku’—bukan ‘milik kita’, bukan ‘milik keluarga’. Ia tidak lagi berbicara sebagai anak, melainkan sebagai individu yang menuntut otonomi. Dan Rico, yang sebelumnya hanya diam, kini tersenyum lebar. Ia tahu: ini bukan akhir. Ini awal dari perang yang lebih besar.
(Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku bukan drama cinta biasa. Ini adalah kritik halus terhadap struktur keluarga patriarkal yang masih menganggap anak perempuan sebagai ‘aset’ yang harus dikawinkan dengan tepat, sementara anak laki-laki dianggap sebagai ‘warisan hidup’. Vania bukan tokoh yang pasif. Ia tidak menangis, tidak memohon, tidak berteriak. Ia *mengambil keputusan*. Dan keputusannya adalah: jika ayahnya tidak bisa memberinya cinta tanpa syarat, maka ia akan menciptakan cintanya sendiri—meski harus menghancurkan ilusi keluarga yang selama ini dijaga dengan rapat.
Perhatikan detail kecil: saat Vania memegang lengan Rico, ia tidak memegangnya seperti seorang istri yang takut kehilangan. Ia memegangnya seperti seorang komandan yang memberi isyarat kepada pasukannya. Dan Rico, yang sebelumnya tampak seperti pria muda yang hanya mengandalkan pesona, kini berdiri tegak, pandangannya tidak lagi menghindar. Ia siap. Siap untuk dihukum, siap untuk diusir, siap untuk kehilangan segalanya—selama ia bisa berdiri di samping Vania.
Sementara itu, di latar belakang, poster BMW X5 M dan iklan ‘Kualitas Super Premium’ terlihat samar-samar. Ironis, bukan? Di tengah-tengah dunia yang mengagungkan kepemilikan materi, dua manusia sedang berjuang untuk kepemilikan atas *diri mereka sendiri*. Mobil merah itu bukan sekadar kendaraan—ia adalah simbol kekuasaan, kebanggaan, dan sekaligus jerat yang siap menjebak siapa saja yang berani menantang status quo.
Dan di akhir adegan, ketika Hadi menatap Rico dengan mata yang penuh pertimbangan, kita tahu: ini belum selesai. Karena dalam dunia seperti ini, kemenangan bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki mobil termahal, melainkan siapa yang berani mengatakan: ‘Aku tidak butuh restumu. Aku butuh kebebasan.’
(Sulih Suara) Aku Hukum Selingkuhan Putriku berhasil membangun ketegangan bukan lewat dialog keras, melainkan lewat diam yang berat, tatapan yang menusuk, dan gerakan tangan yang penuh makna. Setiap kali Vania menyentuh Rico, itu bukan sekadar kasih sayang—itu adalah bentuk pemberontakan yang halus. Dan setiap kali Hadi tersenyum, itu bukan kepuasan—itu adalah pertanda bahwa ia sedang menghitung langkah berikutnya.
Jangan salah sangka: ini bukan kisah tentang selingkuh. Ini adalah kisah tentang seorang anak perempuan yang akhirnya berani mengatakan: ‘Aku bukan sekadar putrimu. Aku adalah diriku sendiri.’ Dan dalam dunia di mana identitas sering dikaitkan dengan nama keluarga, warisan, dan ekspektasi, pernyataan itu adalah revolusi yang paling berani.

