Malam itu, udara terasa berat bagai dipenuhi asap dupa yang tak kunjung menyebar—gelap, misterius, dan penuh ketegangan yang tak terucapkan. Di tengah taman kuno yang diterangi lentera bambu berkedip-kedip, tiga tokoh utama dari serial *Dua Kuasa Menjadi Satu* berdiri dalam formasi segitiga emosional yang sempurna: Li Zhen, sang penyihir berpakaian biru keabuan dengan rambut panjang terikat rendah dan ujungnya berwarna perak seperti embun malam; Wang Yu, pangeran berwajah tegas dengan mahkota naga emas di atas kepala; serta Yue Lian, permaisuri yang memancarkan aura api dan es sekaligus dalam gaun hitam-merah bertatah emas naga dan phoenix. Mereka bukan sekadar tokoh dalam cerita—mereka adalah manifestasi dari konflik antara kebenaran dan ilusi, antara kekuasaan yang diwariskan dan kekuasaan yang direbut.
Semua dimulai dari sebuah cermin. Bukan cermin biasa—ini adalah *Cermin Jiwa*, artefak kuno yang dikatakan mampu menunjukkan wajah sejati seseorang, bukan yang dipamerkan di depan dunia. Li Zhen memegangnya dengan tangan gemetar, jari-jarinya yang ramping menggenggam gagang berbentuk bunga lotus hitam yang dipahat dengan detail rumit. Matanya berkilauan—bukan karena cahaya, melainkan karena kegembiraan yang hampir gila. Ia tersenyum lebar, bibirnya membentuk kata-kata yang tak terdengar, namun ekspresinya berkata: *Akhirnya… kau tak bisa bersembunyi lagi.*
Ketika ia mengarahkan cermin itu ke arah Yue Lian, refleksi yang muncul bukan wajah permaisuri yang anggun dan tenang—melainkan sosok wanita lain, berpakaian sederhana, wajahnya pucat, mata berkaca-kaca, dan darah mengalir dari sudut mulutnya. Yue Lian menarik napas dalam-dalam, lalu tertawa—tawa yang dingin, tajam, seperti pisau yang ditarik perlahan dari sarungnya. "Kau kira ini akan menghancurkanku?" katanya, suaranya merdu namun penuh racun. "Cermin hanya menunjukkan apa yang ingin dilihat oleh si pemegangnya. Dan kau… kau sudah lama buta terhadap kebenaran."
Di sisi lain, Wang Yu berdiri tegak, tangannya menggenggam erat pedang yang tersembunyi di balik lengan jubahnya. Matanya melintas antara Li Zhen dan Yue Lian, wajahnya berubah dari heran, ke marah, lalu ke kebingungan yang mendalam. Ia tidak mengerti—bagaimana mungkin istri yang selama ini setia, yang membangun istana bersamanya, yang bahkan rela menyerahkan nyawanya demi menyelamatkan putranya, ternyata menyembunyikan identitas lain? Namun kemudian, ia ingat: tiga bulan lalu, saat mereka berdua berjalan di koridor timur, Yue Lian tiba-tiba berhenti, menatap patung naga di dinding, dan berbisik, "Aku bukan dia yang kau kira." Saat itu, Wang Yu menganggapnya hanya lelah. Sekarang, ia tahu—ia telah mengabaikan tanda-tanda yang begitu jelas.
Li Zhen tidak langsung menjawab. Ia memutar cermin itu perlahan, lalu mengeluarkan kipas bulu burung phoenix dari balik jubahnya—bukan kipas biasa, melainkan kipas yang terbuat dari bulu-bulu hitam dan emas, dengan inti batu giok yang bercahaya redup. Ketika ia membukanya, angin sepoi-sepoi menerpa wajah Yue Lian, dan untuk sepersekian detik, bayangan seorang gadis muda dengan rambut ikal dan senyum polos muncul di belakangnya—seorang gadis yang pernah mati di tangan Wang Yu sendiri, dalam insiden pembantaian keluarga Chen di tahun ke-12 pemerintahan Kaisar Xuan. Yue Lian menutup matanya, napasnya bergetar. "Kau… kau masih menyimpan itu?"
"Aku menyimpan semuanya," jawab Li Zhen, suaranya pelan tapi menusuk. "Setiap tetes darah, setiap tangisan, setiap janji yang diingkari. Kau mengira dengan menjadi permaisuri, kau bisa menghapus masa lalu? Tidak. Masa lalu tidak mati—ia hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit. Dan malam ini… adalah saatnya."
Di latar belakang, seorang gadis muda dengan gaun pink-kebiruan dan sanggul ganda berhias bunga-bunga kecil muncul dari balik gerobak kayu. Itu adalah Xiao Man, pelayan setia Yue Lian sejak kecil—namun bukan sembarang pelayan. Ia adalah satu-satunya saksi hidup dari pembantaian itu, dan ia yang menyelamatkan Yue Lian saat semua orang lain tewas. Kini, ia berdiri diam, tangan menggenggam erat kerudungnya, mata membulat penuh ketakutan dan simpati. Ia tahu apa yang akan terjadi jika kebenaran terungkap sepenuhnya. Ia tahu bahwa *Dua Kuasa Menjadi Satu* bukan hanya tentang dua orang yang bersatu—tetapi tentang dua identitas yang saling menghantui, dua jiwa yang terjebak dalam satu tubuh, dan satu rahasia yang bisa menghancurkan seluruh kerajaan.
Wang Yu akhirnya berbicara, suaranya bergetar: "Jika kau bukan Yue Lian… siapa sebenarnya kau?"
Yue Lian membuka matanya. Di dalamnya, bukan keangkuhan atau ketakutan—melainkan kesedihan yang dalam, seperti lautan yang tak pernah surut. "Aku adalah Chen Ruyue," katanya pelan. "Putri tunggal dari Keluarga Chen. Aku bukan permaisuri yang kau nikahi. Aku adalah mayat yang bangkit, berpura-pura hidup, demi satu tujuan: agar kau tidak pernah tahu bahwa kau membunuh keluargamu sendiri—dan bahwa anakmu, Pangeran Cheng, bukan darahmu. Ia adalah darah Chen, hasil dari malam ketika aku diselamatkan oleh seorang tabib yang juga anggota keluarga kami."
Wang Yu terjatuh ke satu lutut, wajahnya pucat seperti kertas. Ia menggenggam dada, seolah jantungnya sedang robek perlahan. "Tidak… tidak mungkin…"
"Mungkin," sahut Li Zhen, kali ini dengan nada yang lebih lembut, namun tak kalah tajam. "Karena kau sendiri yang menciptakan kondisi itu. Kau memilih kekuasaan daripada kebenaran. Kau memilih dendam daripada pengampunan. Dan kini, kau harus membayar harga atas pilihan itu."
Lalu, tanpa peringatan, Yue Lian mengulurkan tangan—bukan ke arah Wang Yu, tapi ke arah cermin. Ia menyentuh permukaannya, dan tiba-tiba, cermin itu meledak menjadi serpihan-serpihan cahaya biru, mengalir seperti sungai kecil di udara. Dari dalam ledakan itu, muncul bayangan-bayangan: gambaran masa lalu—pembantaian di halaman istana, tangisan anak-anak, darah yang mengalir di lantai marmer, dan wajah Wang Yu yang dingin, memerintahkan pasukan untuk membunuh tanpa ampun. Semua itu terjadi dalam hitungan detik, namun terasa seperti berabad-abad.
Xiao Man menutupi wajahnya dengan tangan, air mata mengalir deras. Ia ingat malam itu—ia bersembunyi di balik peti kayu, mendengar setiap teriakan, setiap dentuman pedang, setiap napas terakhir. Ia berjanji pada dirinya sendiri: jika ada yang selamat, ia akan menjaganya. Dan ia menjaga Yue Lian—bukan karena loyalitas, melainkan karena rasa bersalah yang tak pernah hilang.
Li Zhen tersenyum, kali ini dengan kepuasan yang dalam. "Sekarang kau tahu. Tapi pertanyaannya bukan *siapa* kau—melainkan *apa* yang akan kau lakukan dengan pengetahuan ini?" Ia mengambil langkah mundur, lalu berbalik, melangkah pergi ke arah gerbang taman. "Aku tidak di sini untuk menghukum. Aku di sini untuk memberimu pilihan. Seperti dulu, ketika kau memilih membunuh daripada mendengarkan. Kali ini… pilihlah dengan hati, bukan dengan pedang."
Wang Yu menatap Yue Lian, matanya penuh konflik. Di satu sisi, ia merasa dikhianati—selama bertahun-tahun, ia mencintai seorang wanita yang ternyata adalah musuhnya. Di sisi lain, ia melihat kelemahan di mata Yue Lian—bukan kebohongan, melainkan keputusasaan yang telah menggerogoti jiwa selama ini. Ia ingat bagaimana Yue Lian selalu menenangkan putranya saat mimisan, bagaimana ia menulis puisi untuknya di malam-malam gelap, bagaimana ia berlutut di altar dewa setiap bulan purnama, memohon agar anak mereka tetap sehat. Apakah semua itu palsu? Atau justru lebih nyata daripada kebenaran yang baru saja terungkap?
Yue Lian tidak beranjak. Ia hanya menatap tangan kirinya—di pergelangan tangan itu, terukir tato kecil berbentuk bunga lotus yang sama dengan yang ada di cermin. Tato itu bukan hiasan. Itu adalah segel darah, yang hanya bisa dilepas jika pemiliknya mengakui dosanya di hadapan dewa. Dan malam ini, di bawah cahaya bulan yang redup, ia tahu: segel itu mulai memudar.
Di kejauhan, suara lonceng kuil berbunyi—tanda bahwa waktu telah habis. Dalam tradisi kuno, lonceng itu berarti: *Keputusan harus diambil sebelum fajar.* Jika tidak, kedua kuasa—kekuasaan duniawi dan kekuasaan rohani—akan berbenturan, dan kerajaan akan tenggelam dalam kekacauan.
Dan inilah inti dari *Dua Kuasa Menjadi Satu*: bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana manusia menghadapi bayangannya sendiri. Li Zhen bukan penjahat—ia adalah cermin hidup yang dipaksakan untuk berbicara. Yue Lian bukan penipu—ia adalah korban yang belajar bertahan dengan cara yang salah. Wang Yu bukan tiran—ia adalah pria yang terjebak dalam peran yang diberikan oleh takdir, dan kini harus memilih: tetap menjadi pangeran yang dihormati, atau menjadi manusia yang jujur.
Adegan terakhir menunjukkan ketiganya berdiri dalam lingkaran cahaya biru yang makin memudar. Xiao Man berlari mendekat, berlutut di depan Yue Lian, dan berbisik sesuatu yang tak terdengar. Tapi dari gerakan bibirnya, kita bisa menebak: "Aku siap mengikuti kau, apa pun keputusanmu."
Lalu, layar gelap. Hanya terdengar suara bisikan Li Zhen dari kejauhan: "Dua kuasa tidak bisa bersatu jika salah satunya menolak untuk mati. Tapi kadang, kematian bukan akhir—ia adalah kelahiran kembali."
Inilah mengapa *Dua Kuasa Menjadi Satu* bukan sekadar drama sejarah—ia adalah cermin bagi kita semua. Kita semua memiliki dua kuasa dalam diri: keinginan untuk dipuji, dan keinginan untuk jujur; keinginan untuk aman, dan keinginan untuk bebas; keinginan untuk mempertahankan identitas, dan keinginan untuk menjadi lebih dari itu. Dan seperti Yue Lian, kita sering memilih yang pertama—karena yang kedua terlalu menyakitkan. Tapi malam itu, di taman yang sunyi, kita diajarkan: kebenaran bukan musuh. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk diterima. Dan ketika ia datang, ia tidak datang dengan pedang—ia datang dengan cermin. Dengan kipas. Dengan tatapan mata yang penuh luka, namun masih mau percaya pada cinta.
Jadi, siapa sebenarnya Yue Lian? Bukan Chen Ruyue. Bukan permaisuri. Bukan korban. Ia adalah pertanyaan yang belum terjawab—dan dalam *Dua Kuasa Menjadi Satu*, pertanyaan itu justru lebih berharga daripada jawaban mana pun.

