Sang Putri Peramal
Pada malam pernikahan Cahaya, mempelai prianya tiba di kamar pengantin dengan membawa pisau, berniat membunuhnya. Cahaya tetap tenang dan menyatakan bahwa suaminya tak akan membunuhnya karena dialah peramal terkemuka! Saksikan bagaimana ramalan Cahaya menjadi kenyataan
Rekomendasi untuk Anda



印尼.jpg~tplv-vod-rs:651:868.webp)

Korona Emas vs Mahkota Duka
Korona emas di kepala pria itu tidak seberat beban dosa yang dipikulnya. Sang Putri Peramal duduk di lantai, memeluk tubuh yang tak bergerak—namun matanya tidak menangis, justru tenang. Ini bukan akhir tragis, melainkan kemenangan diam-diam atas kebohongan kerajaan. 🕯️
Busana Merah yang Berbicara
Gaun merah Sang Putri Peramal bukan simbol pernikahan, melainkan darah yang tumpah dan janji yang tak terucap. Setiap sulaman emas di bahunya bagai garis waktu yang terputus. Pria itu berdiri kaku, jubahnya berkibar—namun hatinya telah hancur sejak detik pertama ia mengacungkan busurnya. 🔥
Saat Pedang Jatuh, Cinta Bangkit
Pedang terlepas dari tangan Sang Putri Peramal—bukan karena kelemahan, melainkan karena ia akhirnya memilih percaya. Pria berjubah merah melangkah maju, tangannya gemetar menyentuh lengan merahnya. Di balik semua dendam, mereka masih saling mengenal: dua jiwa yang lahir untuk bersatu, meski dunia memaksanya berpisah. 🌹
Latar Biru, Karpet Bunga, dan Air Mata yang Tak Jatuh
Latar belakang biru dingin kontras dengan karpet bunga hangat—seperti suasana hati Sang Putri Peramal: dingin di luar, hangat di dalam. Ia tidak menangis saat pria itu berlutut. Sebab dalam diri Sang Putri Peramal, cinta bukan tentang air mata, melainkan tentang memaafkan tanpa kata. 🌌
Pedang di Leher, Hati yang Robek
Adegan Sang Putri Peramal memegang pedang di lehernya sambil tersenyum pahit—bukan ancaman, melainkan pengorbanan terakhir. Pria berjubah merah itu tak mampu berkata apa-apa, hanya menatap dengan air mata menggantung di kelopak mata. Cinta yang datang terlambat, namun tak pernah terlalu telat untuk menyadari kesalahan. 💔