Melihat Darmanto membagikan brosur mencari Nayla sungguh memilukan. Adegan kilas balik saat mereka berbagi jeruk dengan tulisan damai di kulitnya sangat menyentuh hati. Konflik dengan Suyotno dan Alvin tentang rumah yang akan digusur semakin menambah beban emosinya. Cerita dalam Daun Ginkgo yang Hilang ini menggambarkan betapa kerasnya hidup bagi seorang ayah yang kehilangan anak.
Alvin benar-benar tidak punya hati memperlakukan Darmanto seperti itu. Suyotno hanya bisa diam padahal itu saudaranya sendiri. Tekanan kehilangan Nayla ditambah ancaman gusur rumah membuat Darmanto seperti orang gila. Plot Daun Ginkgo yang Hilang berhasil membangun ketegangan yang nyata antara kepentingan keluarga dan perasaan seorang ayah yang putus asa mencari anaknya.
Adegan masa lalu saat Darmanto muda bermain dengan Nayla kecil sangat kontras dengan kenyataan sekarang. Jeruk yang dulu menjadi simbol kasih sayang kini hanya mengingatkan pada kehilangan. Setiap ekspresi wajah Darmanto saat memegang jeruk di masa kini penuh arti. Daun Ginkgo yang Hilang menyajikan narasi waktu yang indah namun menyakitkan bagi penonton yang punya hati lembut.
Tidak mudah melihat Darmanto berjuang sendirian di jalanan sambil membawa tanda pencarian. Rumah yang ditandai cat merah seolah menjadi pukulan terakhir baginya. Pertengkaran dengan Alvin menunjukkan betapa uang bisa mengubah hubungan darah. Saya sangat terhanyut dengan alur cerita Daun Ginkgo yang Hilang yang tidak takut menampilkan sisi gelap manusia saat terdesak keadaan.
Meski banyak konflik, mata Darmanto tetap menyala saat menyebut nama Nayla. Penjual buah yang memberi jeruk adalah sedikit kebaikan di tengah dunia yang keras. Hubungan antara Darmanto dan Suyotno rumit karena campur tangan Alvin yang serakah. Akhir dari episode Daun Ginkgo yang Hilang ini meninggalkan rasa penasaran apakah Nayla akan ditemukan segera atau tidak.